Internasional

Biadab! Donald Trump Ejek Nama 'Mohammad' Demi Jualan Kampanye

Dalam pidatonya, ia menyindir kepresidenan Iran dengan menyinggung nama Mohammad yang umum digunakan di kawasan Timur Tengah.

Biadab! Donald Trump Ejek Nama 'Mohammad' Demi Jualan Kampanye
Presiden AS Donald Trump

fin.co.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menuai sorotan akibat pernyataannya di hadapan pendukung. Kali ini, ia melontarkan lelucon mengenai nama Mohammad ketika membahas kepemimpinan Iran dalam sebuah kampanye politik.

Dilansir Reuters, Sabtu, 17 Oktober 2026, pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri kampanye pemilu sela untuk mendukung para kandidat Partai Republik. Dalam pidatonya, ia menyindir kepresidenan Iran dengan menyinggung nama Mohammad yang umum digunakan di kawasan Timur Tengah.

"Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad,'" kata Trump.

"Peluangnya benar sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," imbuhnya.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah rapat di Bandara Regional Dalton, Georgia. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanyenya untuk mendukung kandidat Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada 3 November.

Dalam kesempatan yang sama, Trump berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka berminat menduduki jabatan presiden Iran. Namun, lelucon yang dilontarkannya itu tidak mendapat tanggapan dari para pendukung yang hadir.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden,"

Komentar Trump tersebut kembali menyoroti gaya retorikanya yang kerap menuai kontroversi, terutama ketika membahas kelompok Muslim, imigran, dan minoritas etnis.

Para pembela hak asasi manusia (HAM) serta organisasi advokasi Muslim sebelumnya berulang kali mengkritik pernyataan Trump yang dinilai merendahkan umat Islam dan kelompok minoritas lainnya.

Retorika semacam itu semakin mengemuka selama masa kampanye pemilu sela. Trump juga melontarkan pernyataan yang menyasar warga Amerika keturunan Somalia dan komunitas Muslim, termasuk Abdul El-Sayed, calon Senat AS dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Minnesota yang berasal dari Somalia dan datang ke AS sebagai pengungsi.

Sementara itu, laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) atau Dewan Hubungan Islam Amerika yang dirilis pada awal tahun ini menyoroti peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat.

Laporan tersebut mengaitkan kondisi itu, antara lain, dengan kebijakan pengetatan imigrasi dan penindakan terhadap aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump. *

Berita Terkait