Rudal Houthi Mengarah ke Riyadh, Arab Saudi Klaim Berhasil Mencegat
Serangan tersebut menjadi bagian dari upaya berulang Houthi untuk menyasar kawasan sipil dan fasilitas umum di wilayah Arab Saudi.
Serangan tersebut menjadi bagian dari upaya berulang Houthi untuk menyasar kawasan sipil dan fasilitas umum di wilayah Arab Saudi.
Kelompok Houthi di Yaman mengecam serangan Arab Saudi yang menyasar fasilitas sipil di Provinsi Hodeidah, wilayah barat Yaman, pada Sabtu 25 Juli 2026.
Otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat soal kemungkinan adanya "potensi bahaya" di Jeddah, Mekkah, dan Taif.
Otoritas Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udara mereka telah mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak (drone) milik pemberontak Houthi Yaman,
Serangan tersebut terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, ketika otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara di Riyadh
Menurut Kuwait, serangan tersebut merupakan tindakan yang melanggar kedaulatan Arab Saudi
Pernyataan Raja Salman disampaikan dalam rapat kabinet Arab Saudi pada Selasa 22 September 2026. Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa Raja Salman menyinggung ancaman terhadap Tanah Suci dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan dua pemimpin itu berlangsung di tengah situasi geopolitik kawasan yang masih bergejolak
Houthi mengklaim menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Saree menyebut serangan tersebut mengenai sasaran dan mengganggu lalu lintas udara di sekitar bandara.
Pemerintah Yaman menilai serangan tersebut sebagai bentuk eskalasi berbahaya yang berpotensi mengancam keselamatan penerbangan sipil.
Menurut Al-Saadi, tindakan Houthi juga berkaitan dengan kepentingan Iran di kawasan tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato atas nama Yaman pada sidang terbuka Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi di negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington tengah mempertimbangkan kemungkinan ikut melakukan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Dalam pernyataannya, GACA menyebutkan korban tewas terdiri atas empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Melalui akun Instagram resminya pada Minggu, 11 Oktober 2026, KBRI Riyadh meminta seluruh WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan dan membatasi perjalanan yang tidak mendesak.
Bandara utama di ibu kota Arab Saudi itu dipastikan tidak beroperasi hingga 15 Oktober 2026. Dikutip dari AFP, Selasa 13 Oktober 2026, rentetan serangan dalam beberapa hari terakhir dilaporkan menyebabkan 18 korban, termasuk 13 orang meninggal dunia.
Menteri Informasi Yaman Moammar al-Eryani mengatakan lima rudal balistik menghantam kompleks istana. Perdana Menteri Shaya Zindani bersama sejumlah menteri lainnya dilaporkan selamat dari serangan tersebut.