Internasional . 04/02/2025, 09:34 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Pembangunan pusat detensi migran ini menuai kritik tajam dari berbagai kelompok hak asasi manusia.
Mereka menilai langkah ini sebagai bukti lebih lanjut dari kebijakan imigrasi Trump yang tidak ramah dan penuh dengan diskriminasi.
Para pengkritik menyatakan bahwa Guantanamo, dengan segala riwayat buruknya, tidak layak menjadi tempat penahanan bagi orang-orang yang hanya mencari perlindungan dari penganiayaan.
Bahkan, beberapa pejabat AS khawatir bahwa langkah ini akan menambah beban pada militer AS, yang sudah kesulitan untuk memenuhi berbagai perintah dari Trump.
Selain membangun fasilitas baru, pasukan AS juga diarahkan untuk memperkuat kehadiran militer di perbatasan selatan AS, yang sudah penuh dengan ketegangan.
Pasukan AS kini menghadapi tugas baru yang penuh kontroversi. Mendirikan fasilitas detensi migran di Guantanamo membawa tantangan besar, baik dari segi logistik maupun dampak sosialnya.
Jika benar Guantanamo menjadi pusat penahanan migran, ini akan menjadi babak baru dalam sejarah fasilitas yang terkenal karena pelanggaran hak asasi manusia dan penahanan tanpa proses hukum yang jelas.(*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media