Ekonomi . 23/06/2025, 20:10 WIB

AS Serang Iran, Harga Minyak Naik Gila-Gilaan! Ekonom Wanti-Wanti Dampak Globalnya

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id - Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik Iran—Fordow, Natanz, dan Esfahan—membuka babak baru konflik Timur Tengah. Setelah seminggu serangan intens dari Israel dalam Operasi Rising Lion, kini giliran Washington melancarkan gempuran langsung ke jantung pertahanan nuklir Republik Islam Iran.

Efeknya? Harga minyak langsung meroket. Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyebut pasar langsung bereaksi cepat.

“Baru beberapa saat kabar serangan dikonfirmasi, harga minyak mentah langsung melonjak ke USD 80 per barel dari sebelumnya USD 78. Kalau ketegangan ini terus berlanjut, minggu depan bisa tembus USD 110 per barel. Bahkan jika Iran benar-benar blokir Selat Hormuz, potensi harganya bisa menyentuh USD 150–170,” kata Achmad saat dihubungi Disway, Senin (23/6/2025).

Risiko Perang Regional dan Krisis Pasokan Global

Achmad mengingatkan bahwa keterlibatan langsung AS bisa memperluas cakupan konflik secara drastis. Beberapa faksi milisi seperti Houthi di Yaman sudah mengancam akan menyerang kapal perang AS di Laut Merah. Sementara itu, Hizbullah di Lebanon diprediksi akan meningkatkan serangan ke wilayah utara Israel.

“Milisi Syiah di Irak, Suriah, bahkan Afghanistan bisa aktif kembali. Artinya, kita tidak bicara perang dua negara lagi, ini sudah menuju perang regional penuh,” tegasnya.

Efek domino juga dirasakan pada jalur pelayaran dunia. Jika rantai pasok lewat Terusan Suez hingga jalur Asia-Afrika terganggu, krisis logistik global bisa kembali menghantam seperti yang terjadi saat pandemi—bahkan bisa lebih buruk.

Harga Pangan Naik, Investor Panik, Dunia Panas

“Dunia ikut panas saat Timur Tengah terbakar,” ujar Achmad. Harga pangan, pupuk, hingga kebutuhan pokok diperkirakan naik tajam, memicu krisis kelaparan baru terutama di kawasan Afrika dan negara miskin lainnya. Investor global diprediksi akan beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS, memicu ketidakseimbangan baru di pasar global.

Dampaknya untuk Indonesia: Tekanan Fiskal, Inflasi, hingga Gejolak Sosial

Bagi Indonesia, krisis ini bukan hanya headline internasional. Ada tiga dampak besar yang harus diantisipasi: fiskal, moneter, dan sosial.

Pertama , lonjakan harga energi akan membebani APBN. Subsidi BBM, LPG, dan listrik otomatis meningkat. “Kalau penerimaan negara tak cukup, defisit makin melebar,” jelas Achmad.

Kedua , inflasi impor dari harga energi dan pangan akan menekan rupiah. Imbasnya, Bank Indonesia kemungkinan harus menaikkan suku bunga. Dunia usaha bakal makin berat bergerak.

Ketiga , masyarakat kelas bawah akan paling terdampak. Kenaikan harga-harga pokok bisa memicu keresahan sosial. “Konflik ini bukan urusan mereka, tapi dampaknya menghantam langsung kehidupan sehari-hari,” ujarnya prihatin.

Dunia Harus Siap Hadapi Krisis Baru

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com