Nasional . 05/07/2025, 12:16 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Universitas Brawijaya (UB) Malang resmi memberangkatkan dua dokter ke Gaza, Palestina, sebagai bagian dari misi kemanusiaan untuk membantu korban perang. Kedua dokter yang berasal dari Fakultas Kedokteran UB tersebut adalah Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI,Subsp.M.N.(K), FIPP dan Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes.MMR., Sp.OT,
Keberangkatan ini menjadi simbol komitmen UB dalam merespons krisis kemanusiaan global, khususnya di wilayah konflik Timur Tengah. Rektor UB, Prof. Widodo SSi MSi PhD MedSc, menegaskan, pengiriman tenaga medis ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial universitas sebagai institusi pendidikan tinggi.
“Ini bukan sekadar konflik bersenjata, tapi tragedi kemanusiaan. UB tidak tinggal diam. Hari ini kami melepas dua saudara kami untuk bergabung dengan tim medis relawan,” ujarnya dalam seremoni pelepasan, Jumat, 4 Juli 2025.
Widodo menyatakan, keberangkatan dua dokter tersebut menjadi bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung misi ini, baik internal kampus maupun mitra eksternal.
Pengiriman relawan medis ini merupakan inisiatif UB Palestine Solidarity, sebuah gerakan solidaritas kemanusiaan yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Loeki Enggar Fitri MKes. Dalam pelaksanaannya, program ini bekerja sama dengan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan organisasi kemanusiaan internasional Rahmah Worldwide.
“Kedua dokter akan bertugas selama dua minggu di RS An-Nasr dan RS Eropa di Gaza, bergabung bersama empat relawan dokter dari BSMI,” jelas Loeki.
Selain mengirimkan relawan medis, UB juga menyerahkan bantuan alat kesehatan senilai sekitar Rp1 miliar, hasil dari penggalangan donasi civitas akademika. Bantuan tersebut mencakup alat ultrasonografi (USG), jarum anestesi, bone graft, dan berbagai jenis obat-obatan.
Sebagian bantuan disalurkan langsung melalui BSMI, sementara sisanya akan digunakan untuk program lanjutan dalam naungan Palestine Solidarity UB, seperti advokasi hukum, pemberian beasiswa, dan penguatan sumber daya manusia (SDM) di wilayah terdampak.
“Keikutsertaan ini lahir dari kesadaran intelektual seluruh civitas UB. Karena kebutuhan utama adalah tenaga kesehatan, maka itu yang kami utamakan,” tegas Loeki.
Langkah UB ini menjadi sinyal kuat peran perguruan tinggi dalam isu kemanusiaan global, bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan sosial dalam merespons tragedi dunia.
(Agung Pamujo)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media