Nasional . 02/09/2025, 14:18 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id – Presiden Prabowo Subianto menerima langsung aspirasi yang disampaikan para pemimpin lintas agama dalam pertemuan di Istana Merdeka pada Senin, 1 September 2025. Dialog ini dihadiri oleh tokoh dari berbagai organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama, PGI, MATAKIN, Wahdah Islamiyah, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan bentuk kebutuhan kolektif dari para pemuka agama untuk menyampaikan suara umat kepada kepala negara.
“Pertemuan dengan Pak Presiden ini bagi kami para pimpinan ormas-ormas keagamaan dan pimpinan-pimpinan agama, tokoh-tokoh agama, memang adalah pertemuan yang kami inginkan. Kami punya kebutuhan untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi dari umat kami masing-masing, dari komunitas masing-masing, yang merupakan aspirasi dari masyarakat, aspirasi rakyat,” kata Yahya.
Yahya menjelaskan bahwa Presiden tidak hanya menyimak dengan seksama, tetapi juga memperlihatkan keseriusan dalam merespons aspirasi yang diberikan.
“Sudah jelas bahwa harapan-harapan dan tuntutan-tuntutan sudah didengar, dipahami, dan benar-benar sedang diupayakan pemenuhannya secara sistematis dan strategis,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kesiapan para tokoh agama untuk mendukung terciptanya ketenangan publik, serta menyambut positif ajakan Presiden agar dialog semacam ini menjadi agenda rutin.
Sementara itu, Ketua Umum PGI, Jacklevyn Frits Manuputty, mengapresiasi sikap terbuka Presiden dalam diskusi yang berlangsung.
“Kami sangat berharap bahwa modal pertemuan dan keguyuban ini bisa juga didorong ke tengah masyarakat, pada provinsi-provinsi, pada daerah-daerah, sehingga kita merajut kembali keguyuban bangsa,” ujarnya.
Menurut Jacklevyn, berbagai isu dibahas secara transparan, mencakup beban pajak bagi masyarakat, praktik korupsi, perilaku pejabat, hingga pembahasan mengenai tunjangan DPR.
“Presiden juga berjanji, misalnya terkait Undang-Undang Perampasan Aset, beliau akan sungguh-sungguh mengerjakan dan memperjuangkannya bersama dewan,” katanya.
Ketua Umum MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo, menyampaikan bahwa Presiden turut menegaskan pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat dalam demokrasi.
“Sebagai negara demokrasi, beliau menjamin kebebasan berpendapat. Namun sekaligus beliau mengingatkan agar kebebasan berpendapat tidak diperlebar atau disalahgunakan sehingga merusak fasilitas umum, yang sebenarnya adalah milik kita bersama dan harus dijaga. Yang rugi kita sendiri,” ujarnya.
Pertemuan Bukan Undangan, Melainkan Inisiatif Ormas
Ustaz Zaitun Rasmin selaku Ketua Umum Wahdah Islamiyah menjelaskan bahwa inisiatif pertemuan berasal dari ormas, bukan undangan Presiden seperti diberitakan sejumlah media.
“Yang pertama, ini sangat mengejutkan karena Bapak Presiden tadi mengungkapkan bahwa sebenarnya beliau tidak mengundang 16 ormas. Jadi mungkin koreksi sedikit terhadap judul di beberapa media yang sudah muncul: ‘Presiden mengundang 16 ormas.’ Hakikatnya tidak demikian. Kamilah yang berinisiatif,” kata Zaitun.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media