Nasional . 06/10/2025, 20:39 WIB

Dosen UGM Soroti Kasus Keracunan Massal MBG: Bahan Baku dan Alat Masak Tak Steril Jadi Pemicu Utama

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Kasus keracunan massal yang berulang dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah kembali menuai perhatian dari kalangan akademisi.

Dosen Biostatistik , Epidemiologi , dan Kesehatan Populasi  Fakultas  Kedokteran , Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM),  Bayu Satria Wiratama mengatakan, penyebab utama kejadian tersebut berasal dari kegagalan penerapan higiene dalam skala besar. Ia menyoroti dua aspekkrusial yang paling berisiko, yakni kontaminasi bahan baku serta ketidak sterilan alat masak dan proses pencuciannya.

“Hasil kajian , kami menemukan berbagai hal penyebab risiko keracunan pangan yang ada di program MBG, mulai dari bahan baku , proses pencucian , penyimpanan , pemasakan , distribusi , hingga konsumsi ,” ujarnya , dikutip Senin 6 Oktober 2025.

Bayu mengungkapkan bahwa di beberapa lokasi ditemukan Sentra Penyedia Program Gizi (SPPG) yang tidak menyimpan bahan makanan di dalam freezer, melainkan  membiarkannya pada suhu  ruang .

“Jarak waktu ke pengolahan juga cukup lama, kurang lebih dua jam kemudian baru diolah . Makanan dibiarkan  terlalu lama di suhu  ruang , maka  kualitasnya  akan  menurun ,” jelasnya .

Masalah paling kritis , lanjut  Bayu , terjadi pada tahapan pemasakan . Ia menjelaskan, jeda  antara makanan selesai dimasak  hingga  disajikan mencapai 4–6 jam, padahal batas  aman  hanya 2–4 jam pada suhu  ruang .

Selain itu, ditemukan pula kondisi di mana api  kompor  dibiarkan  kecil  karena gas hampir  habis , sehingga makanan tidak matang sempurna . Lebih parah lagi, tidak ada  pengendalian  mutu ( quality control) untuk memastikan tingkat kematangan dan keamanan makanan sebelum didistribusikan.

“Proses pemasakan untuk lebih dari 1.000 porsi dalam waktu 40 menit  hingga dua jam tanpa quality control sangat berisiko tinggi terhadap keamanan pangan,” tegas Bayu.

Menanggapi kejadian berulang tersebut, Bayu  menyerukan agar pemerintah segera mengambil langkah darurat untuk mencegah insiden serupa , melalui beberapa langkah strategis berikut :

1. Audit Mendadak dan Menyeluruh: Pemerintah diminta melibatkan ahli gizi , epidemiolog , dan BPOM untuk menelusuri seluruh rantai proses di dapur MBG, mulai dari pengadaan bahan, penyimpanan , pengolahan, hingga distribusi .

2. Peningkatan Standar Sanitasi : Setiap SPPG wajib memiliki akses air bersih yang layak, disarankan menggunakan air galon untuk memasak , serta memastikan alat  sterilisasi  berfungsi optimal.

3. Pelatihan dan Sertifikasi Wajib: Semua pihak yang terlibat dalam pengolahan makanan harus mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi laik higiene dan sanitasi agar standar keamanan  pangan  dapat  terpenuhi .

Bayu menegaskan, tanpa  pembenahan  sistemik dan pengawasan ketat, risiko  keracunan  massal  akan  terus  menghantui  pelaksanaan program gizi pemerintah.

(Hasyim Ashari)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com