Nasional . 13/10/2025, 15:50 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi terkait polemik di media sosial yang menuding susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya mengandung 30 persen susu segar.
Isu tersebut mencuat setelah beredar luas foto kemasan susu MBG yang mencantumkan kadar susu segar 30 persen dalam label produknya.
Anggota Tim Pakar Bidang Susu BGN, Epi Taufik, menegaskan bahwa komposisi susu MBG telah disusun berdasarkan spesifikasi resmi BGN dan tetap mengacu pada regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurutnya, tujuan utama dari program ini bukan semata-mata pada persentase bahan baku, melainkan pada jaminan kualitas gizi yang setara dengan susu segar.
“Memang kandungan susu segar MBG diawali dengan minimum 20 hingga 30 persen, tetapi kandungan gizinya setara susu segar,” ujar Epi dalam keterangannya, Senin, 13 Oktober 2025.
Standar Gizi dan Produksi Lokal yang Terbatas
Epi, yang juga merupakan Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB, menjelaskan bahwa baik susu sapi segar maupun ASI sebagian besar komposisinya memang terdiri dari air.
Oleh karena itu, kadar susu segar sebesar 30 persen dalam produk MBG tidak serta merta menurunkan kualitas gizi yang diterima anak-anak.
Ia menambahkan, penetapan formula susu MBG mempertimbangkan dua aspek utama, yaitu kecukupan gizi dan ketersediaan bahan baku di dalam negeri.
“Kandungan kalsium tidak kurang dari 15 persen daily value, kadar lemak tidak kurang dari 3 persen, kadar protein tidak kurang dari 2,7 persen, dan kadar karbohidrat serta mineral tidak kurang dari 7,8 persen,” jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menargetkan agar susu dalam program MBG menggunakan 100 persen bahan baku susu segar lokal. Namun, Epi mengungkapkan bahwa kemampuan produksi nasional masih jauh dari memadai.
“Produksi susu segar kita kurang dari 1 juta ton per tahun,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan susu nasional saat ini masih bergantung pada impor hingga 80 persen, bahkan sebelum adanya tambahan permintaan dari program MBG.
“Dengan adanya tambahan kebutuhan susu MBG, maka ketersediaan susu segar dalam negeri semakin berkurang,” lanjutnya.
Lebih dari Sekadar Isu Susu
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media