Ekonomi . 14/10/2025, 21:50 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Di tengah berbagai tantangan perekonomian dunia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai bahwa prospek atau outlook ekonomi global mulai menunjukkan tren yang lebih positif, meskipun ketidakpastian masih cukup tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Oktober yang berlangsung di Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 14 Oktober 2025. Dalam kesempatan itu, Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global saat ini turut ditopang oleh Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang masih berada pada zona ekspansif.
“Kita melihat perkembangan ekonomi global 2025–2026 mulai membaik. PMI global tetap ekspansif, menjaminkan keberlanjutan aktivitas manufaktur termasuk di kawasan Asia,” tutur Menkeu Purbaya dalam sambutannya.
Ia menambahkan, kinerja perdagangan internasional juga menunjukkan penguatan di tengah dinamika global dan perang tarif yang masih berlangsung. Surplus neraca perdagangan Indonesia disebut terus bertumbuh, terutama berkat peningkatan ekspor nonmigas.
“Tumbuhnya ekspor non-migas (9,1 persen, yoy) didorong oleh sektor industri dan pertanian. Aktivitas ekspor impor masih tetap solid di tengah ketidakjelasan global, daya ekspor juga positif, naik 7,7 persen year on year, sementara impor tumbuh lebih moderat di 28 persen. Ini mencerminkan permintaan domestik yang masih terjaga,” kata Purbaya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperluas pasar ekspor dan memperkuat sektor industri bernilai tambah guna menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
“Ke depannya, kita akan terus menaruh perluasan-perluasan ekspor dan mengumatkan industri terbasis nilai tambah, sehingga kepercayaan investor tetap terjaga di tengah dinamika global,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara juga memaparkan bahwa realisasi penerimaan pajak nasional menunjukkan peningkatan yang signifikan hingga triwulan ketiga tahun ini.
“Jadi kalau bayar pajak itu kadang-kadang ada restitusinya, kalau bruto bayar, lalu kemudian bruto minus restitusi adalah neto. Kalau kita lihat yang realisasi bruto sampai dengan September 2025 itu Rp1.619,2 triliun,” jelas Suahasil.
Ia menyebutkan, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp 1.588,21 triliun.
“Ini akan kita pantau terus dan moga-moga makin menuju ke belakang, perekonomiannya makin baik, maka realisasi brutonya nanti juga akan meningkat,” pungkasnya.
Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis kinerja fiskal akan tetap terjaga hingga akhir tahun, sejalan dengan tren pemulihan ekonomi dan meningkatnya aktivitas industri di dalam negeri.
(Bianca Khairunnisa)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media