Nasional . 17/10/2025, 23:11 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk menghentikan sementara operasional dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menyusul terjadinya insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah tegas ini diambil setelah ratusan pelajar dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang berasal dari dapur SPPG di bawah naungan Yayasan Tarbiyatul Qur’an Cisarua (TARBIQU).
Kasus tersebut terjadi pada 14 Oktober 2025, di mana 115 siswa SMPN 1 Cisarua awalnya dilaporkan mengalami pusing, mual, dan muntah setelah menyantap makanan MBG. Seiring waktu, jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 502 orang, mayoritas merupakan pelajar di kawasan tersebut.
Dua SPPG yang diberhentikan sementara adalah SPPG Cisarua Jambudipa 1 dan SPPG Cisarua Pasirlangu, yang selama ini menjadi penyuplai ribuan paket MBG untuk wilayah Cisarua dan sekitarnya.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Tim investigasi telah kami kirim untuk mencari tahu penyebab pasti dan memastikan seluruh penerima manfaat mendapatkan penanganan medis yang memadai,” ujar Nanik, perwakilan BGN di Jakarta, Jumat, 17 Oktober 2025.
Sebagai tindak lanjut, BGN membentuk Tim Investigasi Independen yang langsung diturunkan ke lokasi kejadian. Ketua tim, Karimah Muhammad, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya indikasi kontaminasi silang dari bahan pangan yang sama—kemungkinan besar daging ayam atau bahan olahan sejenis.
Ia juga menyoroti adanya keterlambatan penghentian distribusi dari SPPG Jambudipa 1, meskipun laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) sudah diterima sejak pukul 10.00 WIB.
“Dari laporan Dinas Kesehatan Bandung Barat, hari ini masih ada sembilan siswa yang menjalani perawatan inap di RS Dustira. Tiga di antaranya sempat dipulangkan, namun kembali dirawat karena gejala kambuh,” kata Raniah Salsabila, anggota tim investigasi BGN.
Karimah menambahkan, “KLB yang muncul berselang satu hari mengindikasikan kemungkinan kontaminasi bahan baku, terutama daging ayam. Faktor kebersihan dapur dan lingkungan yang kurang terjaga juga menjadi perhatian kami.”
Meski ada temuan awal, BGN menegaskan bahwa penyebab pasti insiden ini masih menunggu hasil laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandung Barat.
Penutupan dua SPPG tersebut, kata BGN, merupakan bagian dari sanksi administratif dan evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang.
“BGN berkomitmen memastikan seluruh mitra program MBG mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), demi keselamatan dan keamanan pangan bagi penerima manfaat,” tegas Nanik.
Menanggapi kejadian ini, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyampaikan keprihatinannya. Ia menegaskan bahwa program MBG adalah inisiatif baik pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat, namun pelaksanaannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Saat ini, kedua SPPG yang ditutup masih menjalani proses evaluasi dan audit menyeluruh, dan baru dapat beroperasi kembali setelah dilakukan perbaikan total terhadap sistem kebersihan, distribusi, dan manajemen pangan.
(Hasyim Ashari)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media