Hukum dan Kriminal . 30/10/2025, 16:44 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan penyelidikan terkait dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, masih membutuhkan waktu. Pasalnya, upaya pencarian bukti dan petunjuk dilakukan dengan cermat.
"Jadi memang proses hukum tentu butuh waktu untuk KPK berprogres,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Kamis, 30 Oktober 2025.
Budi menegaskan bahwa seluruh tahap penyelidikan dugaan korupsi ini akan dijalankan secara profesional. Pengumpulan bukti dan keterangan dilakukan secara maksimal, sehingga masyarakat diminta bersabar.
"Kami pastikan setiap stepnya, setiap tahapannya dilakukan dengan profesional, betul-betul firm untuk mencari dugaan peristiwa tindak pidananya, bukti-bukti yang valid, petunjuk-petunjuk untuk mengungkap sehingga nanti bisa membuat terang perkara ini," terang Budi.
Ia menambahkan, hingga saat ini KPK masih terus mencari peristiwa pidana yang relevan dalam proses penyelidikan.
"Jadi ketika kemudian kita menemukan kecukupan alat bukti maka untuk menetapkan tersangkanya di (tahap) penyidikan,” ujar Budi.
Sebagai informasi, KPK telah memulai penyelidikan kasus dugaan mark up atau penggelembungan dana proyek kereta cepat Whoosh sejak awal tahun 2025. Plt Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, membenarkan proses ini.
"Saat ini sudah pada tahap penyelidikan,” kata Asep kepada wartawan pada Senin, 27 Oktober 2025.
Asep tidak merinci sejak kapan penyelidikan dimulai, hanya menyebut bahwa prosesnya dilakukan secara tertutup sesuai prosedur penyelidikan KPK.
Sebelumnya, isu ini sempat disinggung mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.
Dalam salah satu unggahan di kanal YouTube-nya, Mahfud menyoroti perbedaan mencolok perhitungan biaya pembangunan kereta cepat per kilometer antara versi Indonesia dan China.
"Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Tapi di China sendiri hitungannya 17 sampai 18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat kan," ujar Mahfud.
Mahfud juga menekankan beban utang proyek Whoosh yang mencapai sekitar Rp4 triliun pada 2025. Menurutnya, hal ini dipicu perubahan skema pembiayaan dari tawaran Jepang dengan bunga 0,1 persen ke pinjaman China yang awalnya 2 persen, kemudian naik menjadi 3,4 persen karena pembengkakan biaya (cost overrun).
Meski biaya pembangunan Whoosh per kilometer mencapai Rp780 miliar, angka ini masih lebih rendah dibandingkan MRT Jakarta yang mencapai sekitar Rp1,1 triliun per kilometer.
Mahfud tetap mendukung penyelidikan dugaan mark up ini dan menekankan pentingnya transparansi agar publik mendapat kejelasan soal penggunaan dana proyek.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media