Nasional . 31/10/2025, 14:23 WIB
Penulis : Khanif Lutfi | Editor : Khanif Lutfi
BPBD DKI Jakarta bersama tim gabungan terus memantau wilayah terdampak, mengevakuasi warga, menyedot air, dan memastikan saluran air berfungsi dengan baik.
Di sisi lain, curah hujan tinggi juga memicu banjir di Desa Sukalaksana dan Desa Sukakarya, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, sejak Kamis, (30/10), pukul 15.00 WIB. Banjir ini terjadi akibat saluran air yang tidak mampu menampung debit air yang meningkat, dengan dampak 121 Kepala Keluarga terdampak dan 121 rumah, satu fasilitas pendidikan, dan tiga fasilitas daerah terdampak
Upaya tanggap darurat dilakukan oleh BPBD Kabupaten Garut bersama FORKOPIMCAM Banyuresmi, TNI, Polri, Dinas Sosial/Tagana, Dinas Pemadam Kebakaran, PMI, serta aparat desa dan masyarakat. Penanganan meliputi penyedotan air menggunakan mesin pompa, pembersihan lumpur di rumah warga dan fasilitas umum, serta pemantauan situasi dan pendataan dampak banjir di lapangan. Masyarakat juga secara aktif membersihkan sampah di area jembatan untuk memastikan aliran Sungai Cibuyutan kembali lancar.
Hingga kini, air bercampur lumpur masih menggenang di beberapa halaman rumah dan fasilitas umum. BPBD Kabupaten Garut terus memantau situasi, memastikan penanganan lanjutan berjalan, dan membantu warga agar aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal.
*Perkembangan Penanganan Banjir di Kota Semarang*
Selain peristiwa baru, BNPB juga memantau perkembangan bencana yang masih berlangsung, seperti banjir di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, sejak Rabu, (22/10), pukul 14.30 WIB, akibat hujan deras disertai angin kencang. Hingga kini, tercatat tiga korban meninggal dunia, satu korban hilang, dan 134 jiwa mengungsi di tujuh lokasi pos pengungsian, dengan total terdampak mencapai 22.653 KK atau 40.452 jiwa di tiga kecamatan: Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari.
Ketinggian genangan di 17 titik bervariasi antara 10–90 cm, dengan beberapa titik terdampak parah di Muktiharjo Kidul, Genuksari, dan Trimulyo. Ribuan rumah terdampak, dan beberapa ruas jalan nasional, seperti Jl. Kaligawe, masih tersendat akibat genangan.
Penanganan darurat terus dilakukan oleh BPBD Kota Semarang, BPBD Provinsi Jawa Tengah, dan BNPB, meliputi evakuasi warga, pendirian pos dapur umum, distribusi logistik, dan 1.000 nasi bungkus. Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilaksanakan sejak 25 Oktober dengan 27 sorti penerbangan, menyebar NaCl dan CaO, yang berhasil menurunkan curah hujan hingga 85% di wilayah Jawa Tengah.
Status tanggap darurat banjir berlaku mulai 23 Oktober hingga 5 November 2025 sesuai Keputusan Walikota Semarang No. 300.2/1010 Tahun 2025, dengan pembentukan Posko Komando Penanganan Bencana. Hingga Kamis, 30 Oktober, cuaca cerah berawan, namun air belum surut sepenuhnya dan lalu lintas di beberapa titik masih tersendat.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang dapat memicu hujan lebat, banjir, angin kencang, serta kebakaran hutan atau lahan. Pantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Untuk mencegah kebakaran hutan atau lahan, masyarakat diminta untuk tidak membakar lahan. Menjaga kebersihan saluran air juga penting untuk mencegah banjir.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media