Internasional . 06/11/2025, 20:07 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Dengan kemampuan ofensif sekaligus defensif ini, Poseidon dan Burevestnik menjadi simbol supremasi teknologi militer Rusia dalam era baru peperangan strategis global.
Di pihak lain, Amerika Serikat juga tengah memodernisasi triad nuklirnya, termasuk program Sentinel yang akan menggantikan Minuteman-III, rudal andalan yang sudah beroperasi sejak 1970-an.
Namun, menurut para analis, Burevestnik merupakan lompatan teknologi yang sulit disamai AS dalam waktu dekat. Miniaturisasi tenaga nuklir seperti yang dimiliki Rusia masih menjadi tantangan besar bagi Pentagon.
Pensiunan Letnan Kolonel AS Earl Rasmussen menyebut bahwa senjata ini justru berfungsi sebagai alat pertahanan strategis, bukan ofensif, karena diciptakan untuk menjamin efek jera terhadap potensi serangan musuh.
Menanggapi tekanan dari AS, Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov dengan tegas menyatakan,
“Jika AS menginginkan perlombaan senjata, mereka akan mendapatkannya.”
Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov juga menilai bahwa sudah bijaksana bagi Moskow untuk memulai persiapan uji coba nuklir kembali, mengingat AS telah mempercepat modernisasi senjata ofensif strategisnya.
Lebih jauh, Putin memberi dua pilihan kepada AS:
Memperpanjang batasan New START dan memulai perundingan baru untuk meredakan ketegangan, atau
Menolak diplomasi dan menghadapi konsekuensi langsung berupa perlombaan senjata yang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh Rusia.
Ketegangan antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia ini bukan sekadar adu teknologi, tapi juga pertarungan pengaruh dan dominasi geopolitik global.
Jika uji coba nuklir benar-benar dilakukan, dunia berpotensi menghadapi krisis keamanan global baru, bahkan bisa mengancam stabilitas strategis internasional yang telah dijaga sejak akhir Perang Dingin.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media