fin.co.id - Sebuah kabar memilukan datang dari Kabupaten Bireuen, Aceh. Bangunan asrama putra di Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah ambruk setelah longsoran tebing menerjang dan menyeret seluruh bangunan ke arah sungai yang tengah meluap. Peristiwa ini bukan hanya meruntuhkan gedung, tetapi juga memaksa ratusan santri kehilangan tempat tinggal dalam hitungan detik.
Situasi ini mengguncang publik karena jumlah santri yang terdampak begitu besar, mencapai 329 orang. Mereka sebelumnya tinggal dan beraktivitas di asrama tersebut, namun kini hanya bisa menyaksikan bangunan tempat mereka menimba ilmu hilang terseret derasnya aliran sungai.
Banyak pihak menduga bahwa kerusakan pada pengaman tebing menjadi pemicu runtuhnya asrama. Tebing yang tidak mampu lagi menahan tekanan air sungai akhirnya longsor. Kondisi itu semakin parah saat aliran air meningkat dan menghantam fondasi bangunan secara terus menerus. Tanpa penguat struktur yang memadai, bangunan pun tidak kuasa bertahan dan ambruk.
Hanya dalam waktu singkat, asrama yang menjadi rumah belajar ratusan santri itu berubah menjadi puing-puing yang terbawa arus. Kerugian materiel dari insiden ini diperkirakan menembus lebih dari Rp6 miliar. Angka tersebut mencakup bangunan fisik, fasilitas kamar, serta perlengkapan belajar yang hancur bersama material bangunan.
Usai bangunan dinyatakan rawan runtuh total, para santri langsung dievakuasi ke masjid dayah yang berada tidak jauh dari lokasi. Langkah ini terbukti tepat, sebab tak lama kemudian bangunan asrama benar-benar roboh dan terseret ke sungai. Namun, evakuasi yang dilakukan cepat bukan berarti mereka selamat tanpa kerugian.
Sebagian besar santri tidak sempat menyelamatkan pakaian maupun barang-barang pribadi. Banyak perlengkapan mereka seperti pakaian ganti, kitab, hingga kebutuhan harian hilang begitu saja terseret longsor. Kini mereka hanya menyisakan pakaian yang melekat di tubuh saat penyelamatan dilakukan.
Bayangkan, dalam satu malam tempat tinggal hilang, kebutuhan sehari-hari lenyap, dan ratusan pelajar muda harus memulai dari titik nol. Situasi ini membuat kebutuhan bantuan mendesak tidak bisa ditunda lagi.
Pihak Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah kini bergerak cepat mencari dukungan dan bantuan logistik. Mereka membutuhkan dapur umum untuk penyediaan makanan, serta pakaian pengganti bagi ratusan santri yang kehilangan barang bawaan. Tanpa bantuan ini, aktivitas belajar maupun kebutuhan harian santri terancam lumpuh dalam waktu panjang.
Kondisi darurat ini juga menjadi alarm bagi daerah sekitar untuk lebih memperhatikan pengamanan tebing sungai. Sebab jika insiden serupa terulang, bukan tidak mungkin korban yang terdampak bisa lebih banyak lagi.
Di tengah kondisi itu, publik tentu berharap ada gerak cepat dari pihak terkait untuk menata ulang kawasan dayah, memperbaiki struktur pengaman tebing, serta membantu pemulihan kebutuhan para santri. Karena jika belajar tidak mungkin mereka hentikan, maka dukungan masyarakat adalah suluh yang mereka butuhkan untuk bangkit lebih cepat. (*)