Nasional . 02/12/2025, 09:05 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Mendagri Tito Karnavian tegaskan penanganan bencana Sumatera, Aceh, dan Sumbar & Sumut sudah skala nasional meski statusnya belum ditetapkan. Korban tembus 604 jiwa!
fin.co.id - Badai bencana alam di Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah mencapai titik kritis yang mencekam. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut melonjak drastis, menembus angka 604 jiwa! Di tengah situasi darurat ini, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, mengeluarkan pernyataan yang menenangkan sekaligus menegaskan keseriusan Pemerintah Pusat dalam penanganan.
Mendagri Tito Karnavian mengakui bahwa status bencana alam di ketiga provinsi tersebut belum ditetapkan sebagai bencana alam nasional. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena Tito menegaskan bahwa perlakuan dan penanganan yang Pemerintah lakukan sudah berskala dan berkekuatan nasional penuh. Ini artinya, meskipun label "Bencana Nasional" belum resmi tersemat, upaya yang dikerahkan sudah setara dengan penanganan bencana level tertinggi!
Berbicara dalam konferensi pers di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 1 Desember 2025, Tito Karnavian menekankan bahwa yang terpenting adalah tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar status administratif. "Kalau untuk penetapan bencana nasional, sementara belum setahu saya," ujar Tito, sambil meminta koreksi jika ada kekeliruan data. Akan tetapi, dia langsung menambahkan, "Tapi perlakuannya adalah perlakuan nasional."
Tito menjelaskan bahwa Pemerintah Pusat langsung turun tangan sejak hari pertama bencana mengguncang. Prosedur penanganan yang digunakan sudah mengikuti standar nasional. “Dari hari pertama, pemerintah pusat menilai sendiri bahwa harus turun. Kemudian dari hari pertama sudah dilakukan dengan prosedur nasional,” katanya. Ini menunjukkan respons yang cepat dan serius dari Pemerintah Pusat.
Pemerintah sama sekali tidak main-main. Semua pihak terkait dikerahkan, atau istilahnya, sudah "all out"! Tito mengungkapkan bahwa banyak sekali pejabat tinggi negara yang sudah mengunjungi lokasi bencana, termasuk Presiden sendiri yang memimpin rapat sejak hari pertama dan melakukan peninjauan langsung. Selain Presiden, ada juga Menteri, Panglima TNI, Menteri Pertahanan, dan banyak tokoh penting lainnya yang bergerak cepat ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Mereka mengerahkan semua kekuatan nasional untuk membantu penanganan dan pemulihan.
Intinya, Mendagri Tito berharap masyarakat tidak lagi memperdebatkan status formal bencana. "Jadi masalah status itu pendapat saya penting, tapi yang paling utama itu kan perlakuannya. Tindakannya itu yang penting. Tindakan nasional," tegasnya. Pemerintah menunjukkan bahwa komitmen nyata jauh lebih penting daripada sekadar label resmi.
Sementara itu, data korban jiwa terus bertambah dan membuat kita semua menahan napas. BNPB melalui Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) merilis update data mengerikan per Senin, 1 Desember 2025, pukul 17.00 WIB, yang menunjukkan jumlah korban meninggal melonjak menjadi 604 jiwa. Angka ini adalah akumulasi dari tiga provinsi yang terdampak paling parah.
Bencana ini memukul Sumatera Utara paling keras, dengan jumlah korban meninggal mencapai 283 jiwa. Selain itu, provinsi ini juga mencatat 169 orang hilang dan 613 orang terluka. Kondisi ini membuat Sumatera Utara menjadi fokus utama dalam upaya pencarian dan evakuasi.
Di Sumatera Barat, situasi juga sangat memprihatinkan. Provinsi ini mencatat 165 orang meninggal dunia, dengan 114 orang masih dinyatakan hilang, dan 112 orang terluka. Upaya penanganan di Sumatera Barat juga membutuhkan mobilisasi sumber daya yang sangat besar.
Tidak ketinggalan, Aceh juga menghadapi dampak yang serius. Provinsi paling utara di Sumatera ini melaporkan 156 orang meninggal dunia, 181 orang hilang, dan 1.800 orang terluka. Jumlah korban luka yang sangat tinggi ini menunjukkan betapa luasnya dampak kerusakan dan kesulitan akses untuk mendapatkan pertolongan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media