Kesehatan . 09/12/2025, 18:05 WIB

Waspada! Spesialis Jantung Bongkar Tuntas Mitos Kolesterol Tinggi dan Herbal: Jangan Mudah Percaya Klaim Marketing!

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id – Penyakit kardiovaskular, sang pembunuh nomor satu di dunia, masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Data WHO 2022 menunjukkan, hampir 20 juta orang meninggal akibat penyakit jantung secara global. Di Tanah Air, situasinya tak kalah genting. Kondisi ini menyumbang sekitar 38% dari total kematian nasional pada 2019!

Faktor risiko utamanya? Tidak lain tidak bukan adalah kadar kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) alias kolesterol 'jahat' yang melonjak. Ini adalah alarm serius yang harus kita dengar. Peningkatan kesadaran publik dan langkah antisipatif terkait kesehatan jantung mutlak diperlukan.

Menanggapi tantangan kesehatan yang masif ini, Daewoong Pharmaceutical Indonesia berkolaborasi dengan RS Medistra Jakarta menyelenggarakan Seminar Awam bertema “Kendalikan LDL, Cegah Penyakit Jantung.” Acara ini bertujuan memberikan informasi ilmiah dan praktis mengenai pencegahan dan penanganan penyakit jantung.

Salah satu narasumber kunci, Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Kardiovaskular, blak-blakan membongkar tuntas mitos dan fakta seputar kolesterol, target ideal, hingga kegunaan bahan herbal.

Target Kolesterol LDL Anda Beda-Beda, Jangan Samakan!

Dokter Birry menekankan bahwa tidak ada satu standar kadar kolesterol 'normal' yang berlaku universal untuk semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Target kadar LDL yang harus dicapai oleh pasien sangat bergantung pada tingkat risiko penyakit jantung yang dimiliki.

“Kita harus identifikasi pasien. Dia masuk kelompok risiko rendah (low risk), risiko sedang (moderate risk), risiko tinggi (high risk), atau risiko sangat tinggi (very high risk). Itu yang menentukan targetnya,” tegas Dr. Birry, di RS Medistra Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.

Ini adalah informasi krusial yang harus dicatat oleh setiap pembaca:

  • Jika pasien termasuk kelompok risiko tinggi (high risk), target kadar LDL harus berada di bawah 70 mg/dL.
  • Bagi pasien dengan risiko sangat tinggi (very high risk), targetnya bahkan lebih rendah lagi, yaitu di bawah 55 mg/dL.

“Jadi beda-beda. Memang kita stratifikasi di awal,” katanya. Parameter yang digunakan untuk stratifikasi ini melibatkan pemeriksaan faktor risiko lain seperti riwayat diabetes, hipertensi, riwayat sakit jantung atau stroke sebelumnya, hingga adanya gangguan ginjal.

Mengapa Kolesterol Tinggi Berbahaya, Tapi Rendah Tidak?

Selama ini kita hanya fokus pada bahaya kolesterol tinggi. Dr. Birry menjelaskan mengapa kolesterol yang tinggi menimbulkan risiko, sementara kolesterol rendah tidak masalah.

Kolesterol LDL yang melonjak akan menjadi masalah besar karena cenderung mengendap di pembuluh darah. Pengendapan inilah yang memicu akumulasi lemak atau plak, yang pada akhirnya menyebabkan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Penyempitan ini jelas meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Lalu, bagaimana dengan kadar kolesterol yang terlalu rendah? Dr. Birry menenangkan, "Kalau rendah sih nggak masalah. Makanya tadi saya sampaikan bahwa kalau udah diobatin rendah perlu di-stop obatnya."

Kolesterol, bagaimanapun, memiliki fungsi penting. Kadar LDL yang kita butuhkan sejatinya hanya sedikit, utamanya "untuk membungkus saraf." Saraf memiliki sistem listrik, dan kolesterol melindungi sistem tersebut. Jadi, yang penting adalah mencegah kelebihan yang justru merusak.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com