Ekonomi . 14/12/2025, 19:00 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kenaikan harga pangan di Jakarta menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) semakin mengkhawatirkan. Setelah cabai, kini giliran harga bawang merah yang melonjak tajam di pasaran. Jika Anda terkejut dengan harga di warung, Anda harus tahu penyebab utama di baliknya: alih fungsi lahan yang masif di daerah sentra produksi. Kondisi ini menciptakan kelangkaan bawang merah di Ibu Kota saat permintaan sedang memuncak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, angkat bicara mengenai gejolak harga ini. Ia mengonfirmasi bahwa melonjaknya harga bawang merah disebabkan oleh penurunan drastis hasil panen di daerah pemasok. Penurunan ini berakar pada beberapa masalah serius di tingkat petani, yang paling utama adalah peralihan fungsi lahan.
Hasudungan Sidabalok menjelaskan akar masalahnya terletak pada pilihan ekonomi yang dihadapi petani. Mahalnya harga bibit bawang merah menyebabkan petani di daerah pemasok memilih untuk mengalihfungsikan lahan mereka, beralih menanam padi yang dianggap lebih aman dan stabil secara biaya. Keputusan ini secara langsung menyebabkan jumlah luas tanam bawang merah pada September 2025 menurun signifikan.
"Kenaikan harga bawang merah disebabkan menurunnya jumlah luas tanam pada bulan September 2025 akibat harga benih tinggi, alih fungsi lahan menjadi lahan tanam padi," kata Hasudungan. Ini adalah siklus yang merugikan: harga benih (bibit) tinggi, petani beralih ke komoditas lain (padi), yang berujung pada penurunan produksi masif.
Selain masalah harga bibit dan alih fungsi lahan, faktor alam dan penyakit juga memperparah situasi. Serangan hama atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) semakin menyebabkan penurunan hasil panen bawang merah di sejumlah wilayah produsen. Dampak dari masalah-masalah ini terasa keras pada bulan berikutnya. "Hal ini berimbas pada penurunan jumlah produksi atau panen bulan November 2025 terutama di wilayah Pantura Jawa," ucap Hasudungan. Penurunan produksi di sentra vital seperti Pantura Jawa inilah yang memicu kelangkaan pasokan bawang merah ke Jakarta, tepat di saat permintaan Nataru melonjak.
Laporan dari Dinas KPKP DKI Jakarta menunjukkan betapa parahnya kenaikan harga ini. Berdasarkan pantauan harga di tingkat eceran pada pekan pertama Desember 2025, harga bawang merah mengalami kenaikan sebesar 8,84 persen. Bawang merah yang sebelumnya dijual dengan harga rata-rata Rp50.748 kini meroket menjadi Rp55.234 per Kg. Secara nominal, kenaikannya mencapai Rp4.486 per Kg.
Namun, kenaikan di tingkat pasar tradisional bahkan lebih mencengkeram. Berdasarkan pantauan harga di Pasar Senen Blok VI, Jakarta Pusat, pada Minggu, 14 Desember 2025, harga bawang merah telah naik menjadi Rp60 ribu per Kg. Angka ini jauh di atas harga rata-rata eceran yang dilaporkan, menunjukkan adanya perbedaan harga yang signifikan di tingkat konsumen akhir.
Menariknya, gejolak harga ini nyaris hanya menimpa bawang merah. Bawang putih dan bawang bombay relatif stabil dan tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan. Harga bawang putih, yang normalnya Rp38 ribu per Kg, hanya naik sedikit menjadi Rp40 ribu per Kg. Demikian pula bawang bombay, yang dari Rp33 ribu per Kg hanya naik menjadi Rp35 ribu per Kg. Fakta ini menegaskan bahwa masalah utama terletak pada komoditas bawang merah dan sentra produksinya.
Fahri (25), salah satu pedagang bawang di Pasar Senen, mengonfirmasi bahwa kenaikan harga bawang merah memang sudah rutin terjadi setiap tahun menjelang hari besar keagamaan. Ia menduga kenaikan harga bawang merah terjadi di pasaran karena tingginya permintaan masyarakat menjelang Nataru. Meski demikian, Fahri meyakinkan bahwa untuk saat ini, stok di Pasar Induk Kramatjati terpantau masih aman dan tidak ada keterlambatan pasokan. Ini mengindikasikan bahwa masalah utama adalah harga modal di tingkat produsen yang melonjak, bukan ketiadaan barang total. Pemerintah harus segera turun tangan mencari solusi struktural terhadap masalah alih fungsi lahan dan tingginya harga bibit agar gejolak harga bawang merah tidak terus terulang setiap tahun. - Cahyono/Disway -
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media