Nasional . 15/12/2025, 20:19 WIB

Industri Susu Nasional Siap Dukung Program MBG, tapi...

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id – Industri pengolahan susu nasional berpotensi mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski saat ini masih menghadapi kendala terkait kapasitas pengemasan, terutama untuk kemasan kecil. Hal ini diungkapkan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Merrijantij Punguan Pintaria.

"Pengelolaan susu kita secara nasional mampu untuk memenuhi tantangan kebutuhan MBG, walaupun saat ini sedang terseok-seok karena memang unit fillingnya yang untuk kemasan kecil kapasitasnya masih belum sesuai," kata Merrijantij dalam acara 50 tahun kemitraan Nestle Indonesia dengan peternak sapi perah di Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.

Meskipun demikian, Merrijantij menegaskan bahwa perbaikan kapasitas pengemasan sedang berjalan. Ia optimistis industri pengolahan susu dapat segera memenuhi kebutuhan MBG secara nasional.

"Jadi ini sedang berproses, semoga dalam waktu dekat bisa memenuhi secara nasional," tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti potensi pertumbuhan besar di sektor makanan dan minuman nasional. Tren positif terlihat dari kinerja industri pengolahan non-migas, di mana kontribusi ekspornya mencapai 81 persen dari total ekspor nasional. Tingkat utilisasi industri ini saat ini sebesar 59,28%, menunjukkan masih terbukanya ruang untuk ekspansi dan optimalisasi kapasitas produksi.

"Angka utilisasi ini menandakan masih besarnya ruang ekspansi manufaktur nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi," jelasnya.

Sementara itu, Sustainable Agri Advisor Nestle Indonesia, Syahrudi, menilai program MBG sejauh ini cukup positif dalam menyerap susu nasional. Namun, ia menekankan bahwa MBG belum mewajibkan susu sebagai menu utama, dan frekuensinya pun masih terbatas, yakni sekitar sekali seminggu.

"Dalam perjalanan MBG ini komitmennya untuk penyerapan susu juga bagus. Tapi kita juga tahu MBG belum mewajibkan menu pakai susu, dan kalau pun ada, frekuensinya masih sekali seminggu," kata Syahrudi.

Syahrudi menekankan pentingnya percepatan pengembangan sektor susu, terutama melalui dukungan biaya dan kebijakan, agar usaha sapi perah menjadi menarik dan menguntungkan bagi pelaku usaha.

"Yang paling menarik di sini adalah usaha sapi perah itu harus benar-benar menarik dan menguntungkan bagi pelaku. Bukan hanya karena ada pasar lalu orang diajak beternak, tetapi bagaimana cara melakukannya agar berkelanjutan," pungkasnya.

(Fajar Ilman)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com