Viral . 16/12/2025, 15:48 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Pengguna jalan di kawasan Flyover Ciputat, tepatnya di wilayah Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, sempat dibuat resah. Tumpukan sampah mendadak meluber hingga ke badan jalan. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran, terutama soal kebersihan, kenyamanan, dan potensi gangguan lalu lintas.
Sebagai langkah cepat, petugas menutup tumpukan sampah tersebut menggunakan terpal biru. Penutupan ini bertujuan mencegah pembuangan sampah liar yang semakin tidak terkendali. Apalagi, lokasi tersebut merupakan jalan umum yang setiap hari dilalui masyarakat.
Langkah darurat ini langsung menyedot perhatian publik. Banyak warga mempertanyakan asal-usul sampah dan alasan mengapa kawasan strategis seperti kolong flyover bisa berubah menjadi tempat pembuangan sementara.
Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, memberikan penjelasan tegas terkait polemik tersebut. Ia memastikan tumpukan sampah di kolong Flyover Ciputat tidak berasal dari warga Cipayung. Menurutnya, masyarakat setempat selama ini relatif patuh dan tidak membuang sampah sembarangan di area itu.
Dini menekankan bahwa pihak kelurahan tidak pernah menetapkan kolong flyover sebagai lokasi pembuangan sampah. Sebaliknya, area tersebut berfungsi sebagai fasilitas umum yang harus dijaga bersama. Karena itu, penutupan dengan terpal biru menjadi langkah preventif agar masyarakat dari luar wilayah tidak menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat buang sampah ilegal.
Pernyataan ini sekaligus meluruskan asumsi yang berkembang di masyarakat. Banyak pihak sebelumnya menduga warga sekitar menjadi penyebab utama penumpukan sampah tersebut.
Masalah ini tidak berdiri sendiri. Dini mengungkapkan bahwa penumpukan sampah di sekitar Flyover Ciputat terjadi akibat ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Saat ini, TPA tersebut sedang menjalani proses perbaikan dan penataan.
Penutupan TPA Cipeucang memicu efek domino di berbagai titik. Masyarakat yang biasanya membuang sampah ke lokasi tersebut akhirnya mencari alternatif lain. Sayangnya, sebagian pihak memilih jalan pintas dengan membuang sampah di pinggir jalan atau area publik.
Kondisi ini bersifat darurat dan sementara. Namun, tanpa pengawasan ketat, dampaknya langsung terasa di ruang-ruang publik seperti kolong flyover. Situasi ini juga memperlihatkan betapa krusialnya peran infrastruktur pengelolaan sampah di kawasan perkotaan.
Pihak Kelurahan Cipayung tidak tinggal diam. Selama ini, aparat kelurahan aktif mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama di pinggir jalan dan fasilitas umum. Edukasi ini menyasar pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Warga juga diarahkan untuk memanfaatkan lokasi penampungan sementara yang tidak mengganggu kepentingan publik. Dengan cara ini, lingkungan tetap terjaga dan risiko penumpukan sampah di ruang terbuka bisa ditekan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media