Ekonomi . 16/12/2025, 19:15 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Presiden Prabowo mengungkapkan betapa besarnya kerugian negara akibat ketergantungan impor energi. Berdasarkan laporan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), nilai impor BBM Indonesia saat ini mencapai angka mencengangkan: sekitar Rp520 triliun per tahun!
Jika rencana swasembada energi berbasis komoditas ini berhasil, potensi penghematan fiskal negara sangatlah besar. "Bayangkan kalau kita bisa potong setengah, berarti ada Rp250 triliun. Apalagi kalau bisa potong Rp500 triliun, itu artinya tiap kabupaten bisa punya potensi sampai Rp1 triliun. Kita negara yang sangat kaya,” ujar Prabowo, memberikan gambaran optimistis tentang peningkatan anggaran daerah.
Bahkan, ia memperluas pandangan penghematan tersebut. "Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam serbuk pakai tenaga surya dan tenaga air bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun," lanjutnya. Penghematan ratusan triliun ini bisa dialihkan untuk program kesejahteraan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah, termasuk Papua.
Presiden Prabowo Subianto tidak hanya berhenti pada visi jangka panjang. Ia langsung menetapkan target waktu yang sangat spesifik dan agresif. Sebagai langkah konkret menuju kemandirian energi, ia telah meminta Menteri ESDM untuk melaporkan perkembangan pengurangan impor energi secara berkala.
Target terdekat adalah: "Mulai tahun depan, Menteri ESDM lapor kepada saya, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri." Ini adalah target yang berani dan ambisius. Selain itu, pemerintah menargetkan dalam empat tahun ke depan, Indonesia juga bisa berhenti mengimpor bensin dari luar negeri.
Presiden optimistis rencana ini dapat diwujudkan karena Indonesia memiliki potensi dan perencanaan yang memadai. Meskipun mengakui bahwa swasembada energi tidak dapat terjadi seketika, Prabowo menegaskan komitmen dan konsistensi kebijakan akan membawa Indonesia menuju kemandirian total. “Kita akan buktikan, kita akan menuju ke situ. Tidak bisa seketika, tapi kita sudah mulai ke arah situ,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Papua bukan hanya penerima Dana Otonomi Khusus, melainkan pemain kunci dalam strategi besar nasional untuk mencapai kemandirian energi. Pengembangan sektor perkebunan dan pertanian berbasis energi di Papua akan menjadi pilar penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia secara keseluruhan. - Anisha Aprilia/Disway -
***
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media