fin.co.id – Konflik bersenjata antara dua negara anggota ASEAN, Kamboja dan Thailand, terus memburuk. Laporan dari pejabat pemerintah dan media setempat mengonfirmasi bahwa aktivitas belajar-mengajar terhenti total. Pada Senin15 Desember 2025, sekolah-sekolah di sejumlah wilayah kedua negara terpaksa ditutup akibat pertempuran yang tak kunjung usai.
Hingga kini, bentrokan di perbatasan ini telah menelan korban jiwa sedikitnya 40 orang dan memaksa ratusan ribu penduduk meninggalkan rumah mereka.
Di Kamboja, krisis ini berdampak besar pada sektor pendidikan. Media lokal Fresh News melaporkan, Kementerian Pendidikan Kamboja mengumumkan 1.039 sekolah di enam provinsi ditutup. Penutupan ini mengganggu kegiatan bagi 9.797 guru dan 242.881 siswa.
Sementara itu, korban sipil terus bertambah. Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengonfirmasi dua warga sipil kembali tewas, menambah jumlah korban sipil Kamboja menjadi 15 orang tewas dan 73 lainnya luka-luka. Kementerian tersebut juga menuduh adanya serangan udara:
Kementerian tersebut juga menyebut jet tempur F-16 Thailand melakukan serangan udara di dalam wilayah Kamboja, sebut laporan kantor berita pemerintah Agence Kampuchea Presse.
Di sisi Thailand, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Nikorndej Balankura, melalui laporan Thai Enquirer, menyatakan Bangkok telah mengajukan permohonan resmi ke Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR).
Hal ini dilakukan setelah sembilan warga sipil Thailand tewas dan lebih dari 600 sekolah serta rumah sakit ditutup di area perbatasan. Thai Enquirer juga melaporkan bahwa Angkatan Udara Thailand melancarkan serangan F-16 ke posisi militer Kamboja di tengah pertempuran yang intens.
Secara total, sekitar 700.000 orang dilaporkan telah mengungsi di kedua sisi perbatasan sejak konflik meningkat pekan lalu. Korban jiwa total saat ini tercatat: 15 warga sipil tewas di Kamboja, sementara Thailand melaporkan 16 prajurit dan 9 warga sipil tewas.
Eskalasi konflik ini turut memicu kekhawatiran dari komunitas internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keprihatinan Beijing dan memantau situasi dengan saksama.
“Kami sangat berduka atas jatuhnya korban di kedua pihak dan menyampaikan simpati mendalam. Kamboja dan Thailand adalah negara bertetangga dan akan selalu demikian. Persahabatan dan hubungan bertetangga yang baik adalah hal yang sangat berharga,” kata Guo dalam konferensi pers di Beijing.
Ia menekankan bahwa penghentian pertempuran dan perlindungan warga sipil adalah prioritas utama:
“Kami berharap kedua pihak menahan diri secara maksimal, mengambil langkah-langkah yang mendukung gencatan senjata, dan segera meredakan ketegangan demi perdamaian dan stabilitas,” ujarnya.
Bentrok ini berlanjut, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya pada Jumat (12/12) mengklaim para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menghentikan pertempuran. Perjanjian damai yang pernah ditandatangani di Kuala Lumpur Oktober lalu bahkan harus ditangguhkan setelah tentara Thailand terluka parah oleh ranjau darat.
Di tengah situasi ini, otoritas Thailand juga mengonfirmasi bahwa sekitar 18 tentara Kamboja masih ditahan di Thailand setelah serangkaian insiden selama lima bulan terakhir.
Konflik ini merupakan babak terbaru dalam sengketa perbatasan yang telah lama terjadi dan sering memicu kekerasan, termasuk bentrokan keras pada Juli lalu yang menewaskan sedikitnya 48 orang. *