Sementara itu, angka kematian bayi tercatat sebesar 14,16 per 1.000 kelahiran hidup, dan angka kematian ibu berada di angka 143 per 100.000 kelahiran hidup. Data ini menjadi indikator penting bagi perencanaan layanan kesehatan di kawasan IKN.
Sebagai kawasan pertumbuhan baru, mobilitas penduduk ke IKN tergolong tinggi. Sekitar empat dari sepuluh penduduk merupakan migran seumur hidup, yaitu mereka yang lahir di luar wilayah IKN.
Selain itu, sekitar 6 persen penduduk tergolong migran recent, yakni penduduk yang dalam lima tahun terakhir pindah ke wilayah IKN.
Migran seumur hidup paling banyak berasal dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, sedangkan migran recent didominasi oleh penduduk dari Kalimantan Timur, disusul Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.
Dari sisi pendidikan, BPS mencatat hampir 7 persen penduduk IKN telah menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Dalam penggunaan bahasa, sekitar 20 persen penduduk usia lima tahun ke atas masih aktif menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara untuk kondisi perumahan, mayoritas rumah tangga di IKN masih menggunakan atap seng (89,54 persen). Penggunaan lantai keramik tercatat sebesar 46,89 persen, dan rumah berdinding tembok mencapai 60,34 persen.
Data PPIKN 2025 menunjukkan bahwa IKN bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga kawasan dengan struktur sosial yang hidup dan berkembang.
Dominasi penduduk usia produktif, arus migrasi tinggi, serta bonus demografi menjadi fondasi penting dalam mewujudkan IKN sebagai pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Ke depan, tantangan pemerintah adalah memastikan pembangunan infrastruktur, layanan dasar, dan lapangan kerja dapat mengimbangi dinamika penduduk yang terus bergerak.