Nasional . 20/12/2025, 19:41 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Sigit Nugroho
Saat ini, kondisi jaringan kereta nasional masih jauh dari target tersebut. Data menunjukkan:
Jalur aktif beroperasi: 6.945 km
Jalur nonaktif: 2.233 km
Total panjang jaringan: 9.178 km
Artinya, masih terdapat kesenjangan signifikan yang harus dikejar agar Indonesia memiliki jaringan transportasi rel yang memadai.
Menurut Odo, untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu meningkatkan rasio jumlah penduduk terhadap panjang jalur kereta api, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Peningkatan rasio ini penting, khususnya di tiga pulau besar, yaitu Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” jelasnya.
Kalimantan menjadi sorotan utama karena perannya yang semakin strategis sejak ditetapkan sebagai lokasi IKN, pusat pemerintahan baru Indonesia.
Tak hanya soal perluasan jalur, pemerintah juga menghadapi tantangan usia infrastruktur kereta api yang sudah sangat tua. Odo menyebutkan, sejumlah prasarana seperti jembatan kereta api berusia 75 hingga 100 tahun dan membutuhkan penanganan segera.
“Pak Presiden sudah memberikan arahan kepada Pak Menko untuk melakukan percepatan perbaikan, revitalisasi, plus perpanjangan jalan rel kereta api,” tambahnya.
Arahan tersebut menunjukkan bahwa sektor perkeretaapian kini masuk dalam prioritas nasional pembangunan infrastruktur.
Sebelumnya, Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, menegaskan pentingnya kolaborasi antara wilayah Nusantara dan Kalimantan dalam membangun konektivitas regional.
“Kami juga sedang mengkaji pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Gagasan ini sejalan dengan visi penguatan kawasan Borneo sebagai satu kesatuan ekonomi yang terhubung secara darat, laut, dan udara.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media