Viral . 21/12/2025, 09:41 WIB

Viral Nenek-Nenek Dilarang Beli Roti O Pakai Tunai, Harus QRIS? Netizen Murka!

Penulis : Wanda Afifah  |  Editor : Wanda Afifah

fin.co.id - Sebuah video singkat mendadak menyedot perhatian warganet dan memicu diskusi panjang soal masa depan pembayaran digital di Indonesia. Dalam rekaman tersebut, seorang pria terlihat memprotes sebuah toko roti O di Jakarta setelah menyaksikan seorang nenek ditolak membeli roti karena hanya membawa uang tunai. Alasannya toko tersebut hanya menerima pembayaran menggunakan QRIS.

Video itu pertama kali diunggah oleh akun @arlius_zebua pada Jumat, 19 Desember 2025 dan dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial. Hingga kini, belum ada informasi resmi terkait lokasi pasti kejadian tersebut. Namun, itu tak menghentikan gelombang reaksi publik yang ramai membahas dilema antara percepatan digitalisasi dan realitas sosial di lapangan.

Dalam video yang beredar, pria tersebut secara tegas menyampaikan keberatannya. Ia menilai pembayaran tunai seharusnya tetap menjadi opsi yang diterima, terlebih ketika konsumen yang berhadapan langsung adalah seorang lansia. Menurutnya, tidak semua masyarakat siap atau memiliki akses terhadap metode pembayaran non-tunai seperti QRIS.

Nada protes itu bukan sekadar luapan emosi sesaat. Pria tersebut menekankan bahwa penerapan sistem pembayaran digital perlu mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat secara menyeluruh. Ia menyayangkan ketika teknologi yang seharusnya mempermudah justru berpotensi menghambat akses kelompok tertentu, terutama para lanjut usia.

Aksi spontan itu pun menarik perhatian pengunjung lain di dalam toko. Beberapa orang terlihat ikut memperhatikan perdebatan yang terjadi di area kasir. Di tengah situasi tersebut, sang pria akhirnya mengambil langkah konkret. Sebagai bentuk empati, ia membelikan roti yang ingin dibeli sang nenek agar perempuan lansia itu tetap bisa membawa pulang kebutuhannya.

Momen itu menjadi titik emosional yang membuat video tersebut semakin viral. Banyak warganet memuji sikap pria tersebut yang dianggap berani menyuarakan keresahan masyarakat kecil di tengah masifnya digitalisasi sistem pembayaran. Di sisi lain, tak sedikit pula yang menilai kejadian ini sebagai alarm sosial yang perlu segera disikapi pelaku usaha.

Isu pembayaran non-tunai memang bukan hal baru. QRIS selama ini dipromosikan sebagai solusi praktis, cepat, dan aman. Namun, kejadian di toko roti O tersebut menunjukkan bahwa penerapan di lapangan tak selalu berjalan mulus. Ketika kebijakan diterapkan secara kaku tanpa alternatif, potensi gesekan sosial pun muncul.

Respons publik yang masif akhirnya sampai ke pihak manajemen. Melalui akun resmi @Roti’O, pihak Roti O menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Mereka mengakui adanya ketidaknyamanan yang dialami konsumen dan menyatakan bahwa masukan dari masyarakat telah diterima dengan baik.

Dalam pernyataan resminya, Roti O menegaskan bahwa insiden tersebut tengah dievaluasi secara internal. Manajemen berjanji akan melakukan perbaikan agar layanan ke depan dapat berjalan lebih baik dan lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Permintaan maaf itu menjadi langkah awal, namun diskusi publik belum mereda. Banyak warganet menilai kasus ini sebagai refleksi tantangan besar dalam transisi menuju masyarakat cashless. Di satu sisi, digitalisasi menawarkan efisiensi. Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terakomodasi.

Kejadian ini juga membuka kembali perdebatan soal fleksibilitas layanan di sektor ritel. Publik menyoroti pentingnya kebijakan yang adaptif, terutama di kota besar seperti Jakarta yang memiliki keragaman latar belakang usia dan tingkat literasi digital. (*)

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com