Nasional . 23/12/2025, 14:56 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Selain Bandung, Badan Geologi mencatat sejumlah wilayah lain di Pulau Jawa yang mengalami penurunan muka tanah lebih dari lima sentimeter per tahun, antara lain:
Jakarta Utara
Semarang, khususnya kawasan Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe
Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak
Pesisir Pekalongan
Wilayah timur dan utara Kota Surabaya
Sebagian besar wilayah tersebut berada di pesisir utara Jawa, yang secara geologi tersusun atas sedimen muda dan tanah lunak.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa kondisi geologi yang rapuh diperparah oleh urbanisasi masif, beban bangunan, serta eksploitasi air tanah berlebihan.
Ketika penurunan tanah ini berpadu dengan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global, risikonya meningkat tajam.
“Ketika penurunan tanah berpadu dengan kenaikan muka air laut, risikonya meningkat menjadi banjir dan rob permanen, terutama di wilayah pesisir,” ungkap Lana.
Dampak lanjutan yang ditimbulkan tak kalah serius, mulai dari:
Kerusakan bangunan dan infrastruktur
Menurunnya kualitas lingkungan
Masalah kesehatan dan sanitasi
Kerugian ekonomi akibat biaya perbaikan yang membengkak
Hilangnya wilayah daratan secara permanen
“Terjadi kerugian ekonomi akibat meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan infrastruktur, serta hilangnya wilayah daratan,” tambahnya.
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, amblesan tanah di pesisir utara Jawa telah membuat sejumlah wilayah berada sejajar bahkan lebih rendah dari permukaan laut.
Kondisi ini menyebabkan perubahan daratan menjadi perairan permanen, sehingga permukiman warga dan tambak hilang dari peta daratan. Fenomena banjir rob pun dilaporkan semakin meluas di:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media