Nasional . 24/12/2025, 19:30 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Sejumlah kota besar di dunia diprediksi tenggelam, bahkan berpotensi menghilang pada tahun 2100. Ancaman ini muncul akibat kombinasi kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah yang terjadi secara masif di wilayah pesisir dataran rendah.
Dampak perubahan iklim kini tidak lagi menjadi ancaman abstrak. Banjir besar semakin sering terjadi, merusak permukiman, infrastruktur vital, hingga memaksa pemerintah setempat menyiapkan berbagai strategi adaptasi demi menyelamatkan warganya.
Peningkatan suhu global menyebabkan es di kutub mencair dan volume air laut bertambah. Di sisi lain, eksploitasi air tanah berlebihan di banyak kota mempercepat amblesan tanah. Kombinasi keduanya membuat sejumlah kota berada dalam kondisi kritis.
Mengutip laporan Earth Date (6 Februari 2024), di beberapa wilayah, naiknya muka laut secara perlahan telah menggerus kawasan pesisir. Sementara di wilayah lain, penurunan tanah terjadi akibat perubahan tekanan dan volume tanah yang dipicu aktivitas manusia.
Lantas, kota mana saja yang terancam tenggelam dan berpotensi lenyap pada akhir abad ini?
Berdasarkan data World Economic Forum, Jakarta termasuk salah satu kota dengan risiko tertinggi untuk menghilang pada tahun 2100. Ibu kota Indonesia ini mengalami penurunan muka tanah tercepat di dunia, diperparah oleh kenaikan permukaan air laut.
Sebagian wilayah Jakarta tenggelam beberapa sentimeter setiap tahun, bahkan di kawasan tertentu mencapai hingga 10 inci atau sekitar 25 sentimeter per tahun.
Saat ini, sekitar 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan hanya dilindungi oleh tanggul laut setinggi sekitar 2 meter.
Kondisi tersebut dipicu oleh pengambilan air tanah secara masif, pertumbuhan penduduk yang cepat, serta urbanisasi yang tidak terkendali. Tanpa intervensi serius, sebagian besar wilayah Jakarta diprediksi berada di bawah permukaan laut pada akhir abad ini.
Ancaman inilah yang menjadi salah satu alasan utama pemerintah Indonesia memutuskan memindahkan ibu kota ke Nusantara, Kalimantan Timur, sebagai strategi pembangunan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.
Namun, Jakarta bukan satu-satunya kota yang menghadapi ancaman eksistensial ini.
Jakarta mengalami penurunan muka tanah hingga sekitar 17 sentimeter per tahun. Jika tren ini berlanjut, sebagian besar wilayah ibu kota diperkirakan berpotensi terendam air pada 2050. Ancaman ini mendorong pemerintah memindahkan pusat pemerintahan demi melindungi sekitar 10 juta penduduk.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media