Ekonomi . 30/12/2025, 13:16 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Meskipun dihantam badai anjloknya harga batu bara dan nikel global sepanjang 2025, Kementerian ESDM justru mencetak prestasi gemilang dengan memproyeksikan realisasi PNBP minerba tembus hingga 110 persen atau setara Rp137,17 triliun. Lonjakan setoran negara ini dipicu oleh tingkat kepatuhan perusahaan tambang yang semakin disiplin serta komitmen jaminan reklamasi lingkungan yang naik dua kali lipat.
fin.co.id - Siapa sangka di tengah badai penurunan harga komoditas global, sektor pertambangan Indonesia justru menunjukkan taringnya! Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja merilis kabar mengejutkan yang bikin banyak orang melongo. Meski harga mineral dan batu bara (minerba) sedang tidak baik-baik saja sepanjang tahun 2025, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melesat kencang. Jika Anda berpikir sektor tambang sedang lesu darah, bersiaplah untuk kaget karena pemerintah justru membidik target penerimaan hingga 110 persen! Jangan sampai Anda ketinggalan informasi krusial tentang bagaimana aset negara ini bekerja di luar nalar.
Kondisi pasar global memang sedang menekan harga batu bara dan nikel ke titik yang cukup rendah. Namun, para pelaku pasar dan investor perlu mencatat bahwa kinerja Ditjen Minerba tetap stabil meskipun dihantam tren penurunan harga komoditas. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sistem pengelolaan sumber daya alam kita semakin matang dan tidak hanya bergantung pada keberuntungan harga pasar. Mari kita bedah rahasia di balik optimisme Kementerian ESDM yang tetap percaya diri meskipun harga pasar dunia sedang merah merona.
Pemerintah awalnya mematok target PNBP sektor minerba pada tahun 2025 sebesar Rp124,7 triliun melalui APBN. Namun, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, memberikan sinyal hijau yang sangat kuat. Beliau memproyeksikan realisasi akhir tahun akan menyentuh angka 105 hingga 110 persen dari target awal. Artinya, ada potensi penerimaan negara yang bakal masuk ke kantong kas negara hingga mencapai sekitar Rp137,17 triliun. Angka yang fantastis, bukan?
Hingga 15 Desember 2025 saja, capaian PNBP minerba sudah berhasil menyentuh target yang ditetapkan. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi nasional. Tri Winarno mengungkapkan kegembiraannya di Jakarta bahwa meskipun di pengujung tahun harga komoditas cenderung tertekan, kepatuhan perusahaan tambang terhadap kewajiban mereka kepada negara menjadi kunci sukses yang sangat signifikan. Inilah yang membuat sektor minerba tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di saat-saat sulit.
Jika kita melihat data Harga Batu Bara Acuan (HBA), trennya memang cukup memprihatinkan bagi para pengusaha. Pada periode I Desember 2025, harga batu bara hanya bertengger di angka 98,26 dolar AS per ton. Bandingkan dengan periode II November 2025 yang masih berada di level 102,03 dolar AS per ton, atau bahkan jika ditarik lebih jauh ke November 2024 yang sempat menyentuh 114,43 dolar AS per ton. Penurunan ini jelas menunjukkan kondisi pasar yang sedang "lesu".
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media