Viral . 04/01/2026, 09:21 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Dunia maya kembali memanas di awal tahun 2026. Belum reda perbincangan publik soal lagu terbaru grup band Slank yang berjudul “Republik Fufufafa”, kini giliran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mencuri perhatian. Lewat unggahan terbaru di akun media sosial pribadinya, putra sulung Presiden Jokowi ini seolah memberikan balasan berkelas namun tajam terhadap sindiran pedas grup musik legendaris tersebut.
Banyak pihak menilai aksi Gibran kali ini sebagai langkah "psywar" yang sangat cerdas. Tanpa kata-kata makian, ia justru menggunakan karya Slank sendiri untuk menunjukkan bahwa dirinya tetap bekerja di tengah gempuran kritik. Fenomena ini tentu membuat netizen makin FOMO (fear of missing out) untuk mengikuti setiap detail perseteruan dingin antara sang wapres dan band asal Potlot tersebut.
Melalui pantauan di akun Instagram @gibran_rakabuming pada Minggu, 4 Januari 2026, Gibran mengunggah video perjalanannya saat mengunjungi Pasar Bersehati di Kota Manado. Menariknya, video momen blusukan yang memperlihatkan antusiasme masyarakat tersebut diiringi oleh backsound lagu milik Slank yang berjudul "Kamu Harus Grak".
Pemilihan lagu ini dianggap bukan tanpa alasan. Di tengah isu lagu "Republik Fufufafa" yang menyudutkan namanya, Gibran justru menggunakan lagu Slank yang bertema semangat dan kerja keras. Langkah ini seakan menyindir balik bahwa sementara Slank sibuk mengkritik, Gibran tetap "bergerak" (grak) melayani rakyat. Di video tersebut, tampak warga dan pedagang pasar menyambutnya dengan sorak-sorai hangat. "Terima kasih Pak Gibran sudah mengunjungi kami," ucap salah seorang warga dalam potongan video tersebut.
Dalam keterangan videonya, Gibran menjelaskan bahwa tujuannya menyambangi Pasar Bersehati adalah untuk memantau stabilitas harga pangan secara langsung di lapangan. Ia ingin memastikan bahwa pasokan kebutuhan pokok terpenuhi sehingga aktivitas ekonomi rakyat tetap berjalan adil baik bagi penjual maupun pembeli.
Strategi komunikasi politik ini dinilai sangat efektif untuk meredam sentimen negatif dari lagu "Republik Fufufafa". Gibran ingin menunjukkan solusi nyata atas masalah ekonomi masyarakat, daripada terjebak dalam pusaran konflik kata-kata di media sosial. "Pemantauan pasar secara langsung seperti ini merupakan salah satu upaya harga kebutuhan pokok tetap terjaga," tulis Gibran dalam takarirnya yang langsung diserbu ribuan komentar netizen.
Perseteruan ini bermula saat Kaka, Bimbim, dan kawan-kawan merayakan ulang tahun ke-42 Slank pada 28 Desember 2025 lalu. Alih-alih merayakannya dengan konser glamor, mereka justru merilis video musik "Republik Fufufafa" dengan visual yang cukup kelam. Para personel tampil mengenakan riasan ala Joker, memberikan kesan dark dan penuh satire terhadap kondisi politik tanah air.
Lagu berdurasi 3 menit itu melempar kritik tajam mengenai isu judi, narkoba, hingga sindiran soal pemimpin yang dianggap "sakau kekuasaan". Karena nama "Fufufafa" sudah kadung melekat di persepsi publik sebagai akun media sosial yang kontroversial, netizen langsung menyimpulkan bahwa target tembak Slank adalah lingkaran kekuasaan saat ini. Padahal, Slank dikenal sempat memiliki kedekatan dengan pemerintahan Jokowi di masa lalu.
Kini, publik terbelah. Di satu sisi, Slank mewakili curahan kekecewaan sosial-politik melalui seni yang slenge'an. Di sisi lain, Gibran membalasnya dengan narasi produktivitas dan kedekatan dengan rakyat kecil. Penggunaan lagu "Kamu Harus Grak" oleh Gibran seolah menjadi tamparan balik bagi Slank, mengingatkan mereka pada pesan-pesan positif yang dulu sering mereka suarakan.
Konflik ini membuktikan bahwa di era digital, sindiran tidak harus dibalas dengan amarah. Gibran memilih menggunakan "senjata" lawan untuk membuktikan eksistensinya. Pertanyaannya sekarang, apakah Slank akan kembali merilis karya balasan, atau justru Gibran yang akan semakin gencar menunjukkan kerja nyatanya di pasar-pasar rakyat seluruh Indonesia?
Dinamika antara penguasa dan seniman ini sangat menarik untuk terus dipantau. Satu hal yang pasti, isu "Fufufafa" kini tidak lagi sekadar rumor anonim, melainkan sudah masuk ke dalam panggung terbuka komunikasi politik nasional. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media