Nasional . 06/01/2026, 15:05 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan, pemerintahannya terbuka terhadap kritik maupun aksi demonstrasi dari masyarakat. Namun demikian, ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah yang berpotensi merusak persatuan.
“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik itu bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus,” ujar Prabowo saat menghadiri perayaan Natal Nasional, Senin, 5 Januari 2026.
Menurut Prabowo, seluruh ajaran agama secara tegas melarang kebohongan dan fitnah karena dapat memicu rasa curiga, perpecahan, hingga kebencian di tengah masyarakat. Ia mencontohkan ajaran dalam agama Kristen yang menolak kebohongan, serta nilai dalam Islam yang menyebut fitnah lebih kejam dibanding pembunuhan.
Ia menilai kritik seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian, bukan serangan. Prabowo mengaku berupaya membuka diri terhadap koreksi karena hal tersebut justru berfungsi sebagai pengingat agar seorang pemimpin tidak terjebak pada kesalahan.
“Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tapi sesungguhnya itu mengamankan,” katanya.
Untuk menggambarkan makna kritik, Prabowo mengisahkan pengalaman pribadinya ketika ajudan menegur hal-hal kecil, seperti kancing seragam yang terlewat atau tanda pangkat yang kurang lengkap. Menurutnya, teguran semacam itu bukan bentuk perlawanan, melainkan upaya menjaga kewibawaan dan profesionalisme seorang pemimpin.
Ia juga mengakui bahwa pada awalnya sikap ajudan yang terlalu rinci sempat terasa mengganggu. Namun, seiring waktu, Prabowo menyadari bahwa perhatian terhadap detail tersebut kerap “menyelamatkannya” dari kekeliruan di hadapan publik.
Menanggapi tudingan bahwa dirinya ingin menghidupkan kembali praktik militerisme, Prabowo menegaskan tidak alergi terhadap kritik tersebut. Ia justru melihatnya sebagai peringatan dini untuk melakukan introspeksi dan evaluasi.
“Kalau ada yang teriak Prabowo mau hidupkan lagi militerisme, saya koreksi. Kita lihat benar atau tidak, kita panggil ahli hukum, kita cek batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” ujarnya.
Prabowo menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kritik merupakan elemen penting dalam menjaga demokrasi, sekaligus memastikan kekuasaan dijalankan secara konstitusional dan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip hukum yang berlaku.
Anisha Aprilia/Disway
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media