Internasional . 08/01/2026, 08:24 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Rencana akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat tak pelak memicu gelombang penolakan keras, terutama dari Denmark dan negara-negara Eropa lainnya.
Reaksi tajam ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara AS dengan sekutu-sekutunya di NATO, memperkeruh suasana yang sudah tegang.
Untuk meredakan ketegangan dan membuka jalur negosiasi, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan akan segera melakukan kunjungan ke Denmark pekan depan.
Peran Rubio dalam misi ini sangatlah krusial.
Jika upaya diplomasi gagal, hubungan trans-atlantik yang sudah lama terjalin bisa terancam retak, terutama di tengah ancaman global yang semakin nyata.
Greenland memegang posisi strategis yang sangat vital bagi sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.
Oleh karena itu, Washington merasa memiliki kepentingan kuat untuk mengamankan pulau ini demi menjaga keamanan kolektif dari potensi ancaman yang berasal dari blok timur.
Menambah panas situasi, Donald Trump melayangkan sindiran pedas kepada negara-negara anggota NATO melalui akun media sosialnya, Truth Social.
Trump berpendapat bahwa aliansi militer tersebut kehilangan taringnya tanpa keterlibatan aktif dari Amerika Serikat.
Ia mengklaim bahwa China dan Rusia tidak menunjukkan rasa takut maupun hormat terhadap NATO sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri.
"Satu-satunya negara yang ditakuti dan dihormati oleh China dan Rusia adalah Amerika Serikat yang dibangun kembali," tulis Trump dengan penuh keyakinan.
Ia bahkan meragukan kesetiaan anggota NATO lainnya dalam memberikan dukungan militer jika Amerika Serikat benar-benar membutuhkan bantuan di masa depan.
Sentimen Trump ini semakin memperkuat argumennya bahwa AS harus mengambil kendali penuh atas Greenland demi mengamankan kepentingan strategisnya di Arktik tanpa bergantung pada aliansi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media