Internasional . 09/01/2026, 20:56 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Namun kritik terkait AS menjadi yang paling menonjol, terutama setelah serangkaian tindakan kontroversial oleh pemerintahan Trump termasuk operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan rencana Trump untuk mengambil alih Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark. Tindakan-tindakan ini memicu gelombang kecaman di Eropa dan diyakini telah melemahkan posisi hukum internasional.
Dalam pidatonya, Macron tidak menyerukan pemutusan hubungan secara terbuka dengan Amerika Serikat. Ia justru menekankan bahwa hubungan Eropa-AS tetap penting, namun Eropa harus bertindak lebih tegas dan mandiri di tengah tantangan global saat ini.
Macron menyerukan agar para diplomat Prancis tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan geopolitik, namun mengambil peran aktif dalam membentuk masa depan tatanan dunia.
“Kita tidak di sini untuk berkomentar. Kita di sini untuk bertindak,” imbuh Macron.
Macron bahkan mendorong perlindungan kepentingan Eropa, termasuk dalam hal regulasi sektor teknologi seperti Digital Services Act (DSA) dan Digital Markets Act (DMA) dua regulasi besar Uni Eropa yang kerap mendapat kritik dari Washington karena dianggap berdampak pada perusahaan teknologi AS.
Pidato Macron mencerminkan ketegangan transatlantik yang meningkat seiring sikap unilateral Amerika Serikat dalam beberapa isu internasional.
Sementara fokus AS di bawah Trump sering kali diasosiasikan dengan kebijakan “America First”, Macron menekankan pentingnya kemandirian strategis Eropa serta penguatan institusi global untuk menghadapi tantangan bersama.
Dalam situasi di mana hubungan tradisional antarnegara sekutu sedang diuji, seruan Macron memberikan sinyal bahwa Prancis dan sejumlah pihak Eropa lainnya mencari posisi yang lebih seimbang, antara menjalin kerjasama strategis dan mempertahankan prinsip hukum internasional serta kedaulatan negara. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media