Internasional . 12/01/2026, 16:34 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel), serta seluruh pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” tegas Qalibaf, yang juga mantan komandan Garda Revolusi Iran.
Ancaman ini mempertegas meningkatnya risiko konflik regional, terutama mengingat hubungan Iran-AS-Israel yang sudah tegang sejak perang singkat 12 hari pada Juni 2025, ketika AS ikut menyerang fasilitas nuklir Iran dan dibalas Teheran dengan rudal ke Israel serta pangkalan udara AS di Qatar.
Aksi protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Namun dalam waktu singkat, demonstrasi berkembang menjadi penentangan terbuka terhadap rezim ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Otoritas Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang menghasut kerusuhan. Media pemerintah bahkan menyerukan unjuk rasa nasional untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai “terorisme yang dipimpin AS dan Israel”.
Arus informasi dari Iran semakin terbatas setelah pemerintah memberlakukan pemadaman internet nasional sejak Kamis lalu. Kondisi ini menyulitkan verifikasi independen mengenai situasi di lapangan.
Trump menyatakan akan berbicara dengan Elon Musk terkait kemungkinan pemulihan akses internet di Iran melalui layanan satelit Starlink, sebuah langkah yang berpotensi memperkeruh hubungan Teheran dan Washington.
Meski internet dibatasi, sejumlah video berhasil beredar di media sosial. Salah satunya menunjukkan kerumunan besar warga Teheran berbaris di malam hari sambil bertepuk tangan dan meneriakkan yel-yel.
“Kerumunan ini tidak punya awal maupun akhir,” ujar seorang pria dalam rekaman tersebut.
Video lain dari Mashhad, Iran timur laut, memperlihatkan kebakaran di jalanan, demonstran bermasker, puing-puing berserakan, serta suara ledakan. Reuters menyatakan telah memverifikasi lokasi video tersebut.
Televisi pemerintah Iran menayangkan puluhan kantong jenazah di kantor koroner Teheran dan menyebut korban tewas sebagai akibat aksi “teroris bersenjata”.
Pemerintah juga menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk menghormati para martir yang gugur dalam perlawanan terhadap AS dan “rezim Zionis”.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan keterkejutannya atas laporan kekerasan di Iran dan mendesak semua pihak menahan diri.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media