Politik . 13/01/2026, 19:28 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Langkah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menempatkan diri sebagai partai penyeimbang dinilai tidak semata-mata didorong oleh idealisme demokrasi. Sikap tersebut dibaca sebagai strategi politik untuk tetap menjaga kedekatan dengan pusat kekuasaan, sekaligus membuka peluang masuk ke dalam kabinet pemerintahan Prabowo Subianto dan menjaga ruang manuver menuju Pilpres 2029.
Pengamat Politik Arifki Chaniago menilai, pola oposisi yang diperagakan PDIP saat ini berbeda dibandingkan periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kritik masih disampaikan, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih lunak, komunikatif, dan tidak konfrontatif, sembari tetap merawat hubungan politik dengan pemerintah.
Menurut Arifki, perubahan gaya tersebut menunjukkan kalkulasi politik yang lebih realistis. PDIP dinilai sengaja menghindari sikap oposisi keras agar tidak terpinggirkan dari arus utama kekuasaan, sekaligus mempertahankan posisi tawar dalam dinamika politik nasional.
“Sikap penyeimbang bisa dibaca sebagai upaya PDIP untuk tidak menutup pintu kekuasaan. Tetap kritis, tetapi tidak memposisikan diri sebagai musuh politik permanen,” kata Arifki kepada fin.co.id, Selasa, 13 Januari 2026.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini menjelaskan, strategi ini relevan di tengah fase awal pemerintahan Prabowo yang masih mencari bentuk dan keseimbangan politik. Dengan menjaga komunikasi, PDIP dinilai tetap memiliki peluang untuk masuk kabinet, baik melalui perombakan kabinet maupun pola kerja sama politik di tengah masa pemerintahan.
Lebih lanjut, Arifki menilai PDIP juga tengah mencermati ulang peta kekuatan elite nasional, termasuk dinamika hubungan antara Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono yang sama-sama memiliki pengaruh besar. Kedua figur tersebut diperkirakan akan berperan dalam menentukan arah dan konfigurasi calon wakil presiden pada 2029.
“PDIP tentu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa relasi SBY dan Jokowi ke depan akan sangat dinamis. Posisi cawapres akan menjadi titik temu kepentingan banyak elite, dan PDIP tampak tidak ingin keluar dari arena itu terlalu dini,” kata Arifki.
Dalam konteks ini, rekam jejak hubungan politik Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto juga dinilai relevan. Meski pernah berada di kubu berbeda, keduanya memiliki sejarah kerja sama politik yang menunjukkan fleksibilitas strategi PDIP dalam membangun koalisi.
“Secara historis, Megawati dan Prabowo pernah berduet. Artinya, secara psikologis dan politis, opsi itu bukan sesuatu yang tabu. Peluang itu tampaknya tidak ingin ditutup PDIP, terutama untuk memberi ruang bagi kadernya di 2029,” ujarnya.
Selain pertimbangan elite, PDIP juga dinilai berupaya menjaga kedekatan dengan basis pemilih pemerintah yang cukup besar. Oposisi yang terlalu keras berpotensi menjauhkan pemilih moderat dan pragmatis yang cenderung menghindari konflik politik berkepanjangan.
Dengan demikian, posisi PDIP sebagai partai penyeimbang dipahami sebagai bagian dari strategi bertahan dan bernegosiasi dalam lanskap kekuasaan nasional. Kritik tetap diarahkan pada kebijakan, namun disusun sedemikian rupa agar tidak menutup peluang politik PDIP ke depan, termasuk dalam kontestasi Pilpres 2029.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media