Pendidikan . 18/01/2026, 16:52 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
“Skema double degree diperlukan agar penguatan kapasitas dan pengakuannya lebih optimal,” tambahnya.
Selain dua usulan tersebut, Menteri Agama juga menekankan pentingnya perluasan dukungan LPDP terhadap program studi non-saintek.
Menurutnya, bidang strategis tidak hanya terbatas pada ilmu eksakta seperti sains dan teknologi.
Menag menyebut sejumlah bidang keilmuan non-eksakta justru menjadi keunggulan Indonesia di tingkat global, seperti moderasi beragama, kajian keislaman, serta isu kesetaraan gender.
“Moderasi beragama, kesetaraan gender, dan kajian keagamaan juga merupakan keunggulan Indonesia. Bidang-bidang ini memiliki nilai strategis dan dibutuhkan dalam konteks global,” ungkapnya.
Ia menilai, penguatan studi non-saintek sangat penting untuk membangun peradaban, toleransi, dan harmoni sosial, terutama di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Menutup penyampaiannya, Menteri Agama berharap ketiga usulan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi LPDP dalam merumuskan kebijakan beasiswa ke depan.
Menag menegaskan bahwa kebijakan pendidikan nasional harus memberikan ruang yang adil bagi pendidikan keagamaan, seiring dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Kami berharap kebijakan beasiswa ini dapat menjangkau seluruh anak bangsa. Pendidikan keagamaan harus mendapat ruang yang adil dalam kebijakan nasional,” pungkas Nasaruddin Umar. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media