Nasional . 22/01/2026, 18:07 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Berdasarkan rencana teknis, Pemprov DKI Jakarta akan bertanggung jawab membangun tanggul sepanjang kurang lebih 15 kilometer. Langkah ini menunjukkan bahwa GSW diposisikan sebagai instrumen perlindungan aset daerah, sehingga wajar jika pembiayaannya turut ditopang oleh APBD.
Pendekatan ini juga diharapkan mampu mempercepat eksekusi tanpa harus menunggu skema pembiayaan pusat yang kerap memakan waktu panjang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin terburu-buru dalam membangun proyek sebesar Giant Sea Wall.
“Kami tidak ingin buru-buru, grasah-grusuh, kemudian malah punya potensi menghambat di kemudian hari,” tegas AHY.
Menurut AHY, proyek raksasa yang dikerjakan tanpa perhitungan matang justru berisiko membengkakkan anggaran dan menciptakan masalah baru di tengah jalan. Kesalahan desain, kata dia, bisa berdampak jangka panjang dan merugikan negara.
Karena itu, pemerintah membuka peluang kerja sama investasi internasional, khususnya dengan negara-negara yang memiliki pengalaman panjang dalam rekayasa kelautan dan perlindungan pesisir.
“Kita ingin yang terbaik untuk Indonesia. Penyelamatan sekitar 50 juta masyarakat di Pantura harus benar-benar mendapatkan perhatian serius,” lanjut AHY.
Di era kepemimpinan saat ini, Giant Sea Wall diarahkan pada filosofi “kombinasi natural”. Pemerintah menyadari bahwa tanggul beton saja tidak cukup untuk menghadapi ancaman perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Konsep Nature-based Solutions menjadi bagian integral proyek ini, terutama melalui restorasi dan penanaman mangrove secara masif. Solusi ini dinilai lebih adaptif, ramah lingkungan, sekaligus memiliki manfaat ekonomi jangka panjang.
Investasi besar dalam proyek Giant Sea Wall dirancang untuk melindungi tiga pilar utama:
Masyarakat dan nelayan, dengan menjamin kedaulatan hunian serta ruang ekonomi pesisir
Kawasan industri strategis, sebagai urat nadi perekonomian nasional di utara Jawa
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), guna memastikan aset investasi jangka panjang tidak terancam bencana rob
“Sinergi ini memang masih minim, namun ke depan dengan skema investasi yang baik, mudah-mudahan bisa dibangun secara bersamaan,” pungkas AHY. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media