Nasional . 27/01/2026, 13:09 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Kehilangan 23 prajurit sekaligus merupakan pukulan telak bagi kekuatan pertahanan RI. Khususnya Batalyon Infanteri (Yonif) 9 Marinir. Satuan dengan julukan "Beruang Hitam" ini bukan unit biasa. Mereka adalah salah satu ujung tombak Korps Marinir TNI AL yang memiliki sejarah panjang menjaga kedaulatan maritim dan daratan Indonesia.
Tragedi di Cisarua terjadi justru saat para prajurit ini tengah berada di puncak kesiapan menjalankan tugas negara di perbatasan Papua.
Bagaimana negara akan memberikan penghormatan terakhir kepada mereka? Berikut profil dan sepak terjang Yonif 9/Bala Jala Yudha Perkasa.
Batalyon Infanteri 9 Marinir merupakan satuan tempur yang berada di bawah komando Brigade Infanteri (Brigif) 4 Marinir/BS.
Bermarkas di Bhumi Marinir Piabung, Pesawaran, Lampung, satuan ini dibentuk untuk memperkuat pertahanan di Pulau Sumatera dan sekitarnya. Yonif 9 Marinir memiliki spesialisasi dalam operasi amfibi dan pengamanan wilayah strategis.
Julukan "Beruang Hitam" mencerminkan karakteristik prajuritnya: kuat, tangguh, dan sangat protektif terhadap kedaulatan wilayahnya. Satuan ini telah berkali-kali sukses menjalankan misi sulit.
Mulai dari operasi penumpasan gerakan separatis, operasi kemanusiaan, hingga pengamanan perbatasan di titik-titik paling terluar Indonesia.
Prajurit Yonif 9 dididik untuk memiliki mental baja. Kehilangan 23 prajurit di medan latihan adalah duka mendalam. Karena mereka adalah manusia-manusia terpilih yang siap mengorbankan nyawa.
Sebagai bentuk apresiasi tertinggi, prajurit yang gugur dalam tugas (termasuk dalam masa latihan pratugas) biasanya akan diusulkan untuk mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) anumerta satu tingkat lebih tinggi.
Hal ini merupakan prosedur standar bagi prajurit Jalasena yang kehilangan nyawa demi kepentingan negara.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media