Ekonomi . 29/01/2026, 18:13 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Pasar modal Indonesia tengah bergejolak hebat! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal parah, menyentuh level 8.232,201 pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Kerugian akumulatif bursa domestik kini menembus angka fantastis, lebih dari 15% sejak Morgan Stanley Capital International (MSCI) melayangkan kritik pedas terhadap kualitas pasar saham tanah air.
Sentimen negatif ini meledak pasca keputusan MSCI membekukan penyesuaian indeks terhadap saham-saham Indonesia. Keputusan tegas ini menjadi tamparan keras yang mengguncang kredibilitas Bursa Efek Indonesia di mata investor internasional. Para pengamat pun tak segan melabeli kondisi ini sebagai "lampu kuning besar", sebuah sinyal kuat yang memaksa para investor global untuk segera menarik rem darurat dan meninggalkan pasar saham Indonesia.
MSCI Nyalakan "Lampu Kuning Besar" Akibat Masalah Transparansi
Achmad Nur Hidayat, seorang Pengamat Ekonomi dari UPN Veteran Jakarta, menilai langkah MSCI membekukan bobot saham Indonesia sebagai tindakan yang sangat mendesak dan berpotensi fatal. MSCI secara tegas menyoroti berbagai isu sensitif, mulai dari fundamental investability issues pada data bursa hingga struktur kepemilikan saham yang dianggap kurang transparan atau bahkan "opas" (buram).
Beliau menekankan, "Ini seperti lampu kuning besar yang dinyalakan di persimpangan ramai, memberi tahu semua pengendara global agar menurunkan kecepatan. Investor global tidak hanya melihat laba perusahaan, mereka juga menilai 'aturan main' dan kualitas infrastruktur pasar," ujar Achmad Nur Hidayat pada Kamis (29/01/2026).
Lebih mengkhawatirkan lagi, muncul kecurigaan mengenai adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi di pasar saham Indonesia. Fenomena ini sontak memicu "diskonto kepercayaan" yang membuat para manajer investasi dunia enggan mengalirkan dana mereka ke bursa tanah air.
Potensi Dana Keluar Rp36 Triliun, Goldman Sachs Mulai Waspada Keras
Kepanikan yang melanda pasar saham Indonesia ternyata bukan tanpa alasan kuat. Keputusan MSCI yang membekukan penambahan saham ke MSCI Investable Market Indexes, serta penangguhan migrasi antar segmen ukuran saham, memicu risiko arus keluar dana (outflow) yang masif. Data yang ada menunjukkan potensi pelarian dana pasif yang sangat besar dalam waktu dekat.
"Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif sekitar USD 2,3 miliar, yang setara dengan Rp36,5 triliun. Angka ini dengan jelas menguraikan mekanisme rasa takut yang sedang terjadi," lanjut Achmad Nur Hidayat. Jika nantinya definisi saham yang benar-benar bisa diperdagangkan (free float) diterapkan dengan lebih ketat, tekanan jual di pasar akan semakin menggila tak terkendali.
Indonesia Terancam Didepak dari Peta Investasi Global: Risiko Besar Menanti!
Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti, memberikan peringatan keras bahwa situasi genting ini sama sekali tidak boleh dianggap enteng. Menurut pandangannya, jika risiko Indonesia benar-benar dikeluarkan dari pasar global benar-benar terealisasi, dampaknya akan sangat destruktif bagi struktur ekonomi negara kita secara keseluruhan. Indonesia bisa saja dipandang negatif oleh komunitas internasional, yang pada akhirnya akan menghambat berbagai program pembangunan strategis.
"Kalau memang risikonya kita dikeluarkan dari market, itu menimbulkan satu risiko yang sangat besar. Indonesia bukan hanya di mata global, tapi juga mempengaruhi pada ekonomi yang sangat struktural," tegas Gundy Cahyadi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media