Nasional . 30/01/2026, 17:39 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Jawaban pasti akhirnya datang dari teknologi luar angkasa. Tim ilmuwan menggunakan satelit Surface Water and Ocean Topography (SWOT), yang memiliki kemampuan jauh melampaui satelit altimetri generasi lama.
Altimeter tradisional gagal menangkap fenomena ini karena jalur pengamatannya terbatas. Sebaliknya, Interferometer Radar Ka-band (KaRIn) milik SWOT mampu memetakan ketinggian permukaan air dengan akurasi hingga 2,5 meter, mencakup area selebar 50 kilometer.
Hasilnya mencengangkan. Peta ketinggian fjord menunjukkan kemiringan air yang bergerak saling berlawanan arah, bukti kuat keberadaan seiches.
Menariknya, kapal militer Denmark yang berada di lokasi saat kejadian tidak melihat gangguan berarti. Ini menunjukkan bencana ini nyaris tak kasat mata.
Para peneliti sepakat bahwa pemanasan global berperan besar dalam memicu longsor ini. Pencairan lapisan es, hilangnya penopang alami gletser, serta perubahan pola presipitasi menciptakan kondisi lereng yang rapuh.
Perbedaan suhu ekstrem antara musim dingin dan musim panas membuat musim semi menjadi periode paling rawan longsor.
“Perubahan iklim memunculkan ekstrem baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Thomas Monahan, penulis utama studi ini.
Megatsunami Greenland menjadi peringatan serius bagi dunia. Bencana berskala raksasa kini bisa terjadi tanpa disadari. Jauh dari pemukiman manusia.
Namun dampaknya tetap mengguncang seluruh planet. Termasuk di Indonesia.
Jika pemanasan global terus dibiarkan, para ilmuwan memperingatkan bencana ekstrem serupa bisa terjadi lebih sering. Lebih besar. Lebih mematikan.
Bagi banyak peneliti, peristiwa ini bukan sekadar fenomena geologi. Melainkan alarm keras bahwa krisis iklim sudah memasuki fase berbahaya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media