Ekonomi . 31/01/2026, 14:58 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Pemerintah terus mematangkan strategi pengelolaan aset strategis nasional melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Salah satu langkah besar yang kini menjadi sorotan adalah pengalihan pengelolaan tambang emas Martabe di Sumatera Utara ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru bernama PT Perminas.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat peran Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih nyata dan berkelanjutan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pengawas Danantara melalui pernyataan yang disampaikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut pembentukan dan pendanaan BUMN baru seperti PT Perminas merupakan langkah yang lebih produktif dibandingkan sekadar menempatkan dana di instrumen obligasi pemerintah.
Purbaya menjelaskan, saat ini Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) mengelola dana yang sangat besar, mencapai Rp160 triliun.
Selama ini, sebagian dana tersebut ditempatkan pada obligasi negara. Namun menurutnya, investasi langsung ke sektor riil melalui BUMN baru akan memberikan efek pengganda yang lebih luas.
“Oh iya lah (lebih baik ke BUMN baru). Kalau ke bond kan saya bayar bunga untuk uang dulunya punya saya juga. Kalau dia bikin BUMN langsung kan akan menggerakkan ekonomi. Justru itu yang diharapkan dari Danantara. Jadi ada creation yang baru,” ujar Purbaya
Menurutnya, Danantara memang dirancang bukan sekadar sebagai pengelola dana pasif, melainkan sebagai mesin pencipta nilai ekonomi baru bagi Indonesia.
Ketika ditanya apakah PT Perminas nantinya akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN), Purbaya enggan memberikan detail lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa seluruh keputusan terkait pendanaan Perminas sepenuhnya berada di bawah kewenangan Danantara.
“Danantara. Bukan saya,” ujarnya singkat.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Perminas akan dikelola dengan pendekatan korporasi murni di bawah Danantara, tanpa terlalu banyak intervensi fiskal langsung dari Kementerian Keuangan.
Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan pihaknya akan membahas kelanjutan pengambilalihan aset tambang emas Martabe, termasuk isu ketenagakerjaan, bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Kantor Kemenko Perekonomian pada Kamis (29/1) pukul 08.00 WIB. Rosan terpantau tiba di lokasi pada pukul 08.09 WIB, bersama Kepala BP BUMN yang juga COO Danantara, Dony Oskaria.
Namun, usai pertemuan, Rosan memilih irit bicara dan tidak mengungkapkan hasil pembahasan yang dilakukan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media