Pendidikan . 01/02/2026, 09:06 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Tangis haru tak membendung di wajah Moch. Agus Wijaya saat menceritakan kerasnya perjuangan hidup sebagai guru honorer. Warga Pamulang, Tangerang Selatan ini harus memutar otak setiap hari agar tetap bisa berdiri di depan kelas meski upah yang ia terima jauh dari kata layak.
Setiap pagi, Agus menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di Pamulang menuju sebuah sekolah di Jakarta Barat untuk mengajar. Dengan gaji pokok hanya Rp500 ribu per bulan, pendapatan tersebut tentu tidak cukup untuk menutup biaya operasional sehari-hari, apalagi kebutuhan keluarga.
Strategi Bertahan: Pulang Mengajar Sambil Jadi Kurir
Kisah pilu Agus terungkap dalam sebuah wawancara emosional dengan Metro TV yang kemudian viral di media sosial. Saat ditanya bagaimana cara bertahan hidup dengan upah seminim itu, Agus menyeka air mata sembari menjelaskan rutinitas tambahannya setelah bel sekolah berbunyi.
"Kalau saya pribadi untuk pulang pergi, terutama pulangnya, berusaha menutupi dengan cara mengambil barang atau paket yang memang searah jalan pulang," ungkap Agus dengan nada bergetar.
Ia tidak langsung beristirahat setelah menguras tenaga mendidik siswa. Agus memilih beralih profesi menjadi driver ojek online sekaligus kurir pengantar paket. Langkah ini ia lakukan demi memastikan ongkos bahan bakar kendaraannya tertutupi dari penghasilan tambahan di jalanan.
Malam Hari Berjualan Nasi Goreng
Perjuangan Agus belum berakhir saat matahari terbenam. Setelah mengumpulkan modal dari sisa rezeki ngojek dan mengantar paket, ia menyalakan kompor untuk berjualan nasi goreng pada malam hari. Rutinitas melelahkan ini telah ia jalani selama bertahun-tahun sejak awal bergabung menjadi tenaga pendidik.
Bagi Agus, mencari penghasilan di luar profesi guru adalah sebuah keharusan demi menyambung napas dapur pacunya. Meski fisiknya terkuras habis, ada tanggung jawab moral yang membuatnya tetap bertahan di dunia pendidikan.
"Kita punya anak-anak, punya generasi. Ada masanya kan dulu saya juga diajarkan," tuturnya sembari menahan tangis, mengingat jasa para gurunya terdahulu yang kini ia teruskan kepada murid-muridnya.
Alarm bagi Kesejahteraan Guru di Perkotaan
Potret Agus Wijaya menjadi pengingat nyata bahwa di balik kemegahan kota Jakarta dan wilayah penyangganya, masih ada guru yang harus berjibaku dengan kemiskinan. Di saat ia membangun mimpi besar para muridnya di dalam kelas, Agus justru harus bertarung keras sekadar untuk bertahan hidup di luar sekolah.
Dedikasi luar biasa ini mengundang simpati luas dari warganet. Banyak pihak berharap agar skema kesejahteraan guru honorer, khususnya di wilayah kota besar seperti Jakarta dan Tangerang Selatan, segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah agar pahlawan tanpa tanda jasa ini bisa fokus mengajar tanpa harus kelaparan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media