Kesehatan . 02/02/2026, 22:39 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Admin
fin.co.id - Virus Nipah kembali menjadi sorotan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan kejadian infeksi virus Nipah di Bengala Barat, India, ke dalam laporan Disease Outbreak News (DONs) pada 30 Januari 2026.
Laporan ini memuat sejumlah fakta penting yang menjadi rujukan global dalam penanganan wabah penyakit menular.
Adjunct Profesor Universitas Griffith Australia sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan setidaknya ada tujuh temuan utama WHO yang perlu diketahui masyarakat agar lebih waspada dan memahami pola penularan virus mematikan tersebut.
WHO mencatat dua kasus infeksi virus Nipah yang menjadi perhatian publik. Pasien terdiri dari satu pria dan satu wanita berusia 20–30 tahun, usia produktif yang selama ini dianggap memiliki daya tahan tubuh lebih baik.
Menariknya, kedua pasien diketahui bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, Bengala Barat. Fakta ini menegaskan bahwa tenaga kesehatan tetap menjadi kelompok rentan dalam penanganan penyakit menular berisiko tinggi.
Gejala berat sudah muncul sejak akhir Desember 2025, dan keduanya dirawat intensif di rumah sakit pada awal Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan virus Nipah dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius.
Pada 13 Januari 2026, kedua pasien dipastikan positif virus Nipah setelah menjalani pemeriksaan RT-PCR dan ELISA di India National Institute of Virology (NIV), Pune—lembaga rujukan nasional India untuk penyakit infeksi. “Reputasi NIV India sangat baik. Indonesia juga idealnya memiliki institusi serupa untuk memperkuat respons wabah,” ujar Prof. Tjandra.
WHO melaporkan perawat wanita masih dalam kondisi kritis di ruang ICU dan menggunakan ventilator mekanik. Sementara perawat pria mengalami gangguan neurologis berat, meski kondisinya kini dilaporkan mulai membaik.
Hingga laporan DONs diterbitkan, sumber awal penularan virus Nipah belum diketahui. Ketidakjelasan ini menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan karena rantai penularan awal belum terpetakan secara tuntas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media