Nasional . 03/02/2026, 19:19 WIB

Lubang Menganga di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan ESDM

Penulis : Gatot Wahyu  |  Editor : Gatot Wahyu

fin.co.id - Fenomena lubang besar yang terus melebar di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, kembali menyita perhatian publik. Banyak yang menduga lubang menganga tersebut merupakan sinkhole. Namun, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menegaskan, fenomena ini bukan sinkhole, melainkan akibat pergerakan tanah yang dipicu erosi bawah permukaan.

Dinas ESDM Aceh mencatat, luas area tanah bergerak tersebut kini telah melampaui 30 ribu meter persegi. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2021 yang tercatat seluas 20.199 meter persegi.

“Luasan terbaru sudah di atas 30.000 meter persegi. Artinya ada penambahan lebih dari 10.000 meter persegi,” ujar Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, saat dikonfirmasi di Banda Aceh, Selasa (3/2).

Menurut Ikhlas, fenomena yang terjadi merupakan piping erosion atau erosi bawah permukaan. Proses ini terjadi akibat aliran air tanah dan air permukaan yang secara perlahan menggerus material tanah di bawahnya, hingga akhirnya menyebabkan runtuhan di bagian atas.

“Ini bukan sinkhole. Penyebab utamanya adalah erosi bawah permukaan yang diperparah oleh kondisi lereng yang curam, hujan, serta potensi aktivitas gempa,” jelasnya.

Penegasan serupa juga disampaikan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Dari hasil kajian awal, lembaga tersebut menyimpulkan bahwa fenomena di Aceh Tengah bukanlah sinkhole, melainkan erosi bawah permukaan yang berkembang secara bertahap.

Dari hasil peninjauan terbaru di lapangan, Dinas ESDM Aceh menemukan bahwa tanah di lokasi tersebut tersusun atas tufa vulkanik Formasi Geureudong, yakni material gunung api yang bersifat lepas dan berpori.

Struktur ini membuat tanah mudah menyerap air dan cepat jenuh, sehingga rentan bergerak. Selain itu, terdapat rembesan air bawah tanah yang mengalir secara lateral dan mengikis tanah dari dalam.

Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang dapat meluap dan membebani lereng, terutama saat musim hujan.

“Lereng di lokasi hampir tegak. Dengan hujan deras atau gempa bumi, kestabilan tanah semakin menurun dan longsor sulit dihindari,” tambah Ikhlas.

Atas kondisi tersebut, Dinas ESDM Aceh mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak mendekati area longsoran, terutama saat musim penghujan, karena potensi longsor susulan masih sangat tinggi.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga disarankan untuk merelokasi jalur jalan yang terdampak ke area lebih aman serta memindahkan sistem drainase agar tidak menambah beban tanah di zona rawan.

Selain itu, diperlukan kajian geologi teknik sebelum pembangunan infrastruktur baru dilakukan, termasuk penerapan mitigasi struktural seperti penguatan tebing, penanaman vegetasi, serta pengaturan aliran air.

Upaya mitigasi non-struktural seperti edukasi dan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat juga dinilai sangat penting.

“Pemantauan berkala harus terus dilakukan. Jika ditemukan retakan baru yang memanjang atau melebar, segera laporkan ke instansi berwenang,” tegas Ikhlas.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com