Nasional . 04/02/2026, 08:42 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Berita ini ditulis untuk kepentingan informasi dan kepedulian publik. Redaksi tidak bermaksud menginspirasi, menormalisasi, atau membenarkan tindakan bunuh diri dalam bentuk apa pun. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional, depresi, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau layanan bantuan profesional terdekat.
fin.co.id - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar menyoroti serius kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena seharga Rp10.000.
Muhaimin menilai peristiwa tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa, melainkan peringatan keras bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, tragedi ini menunjukkan masih adanya persoalan mendasar yang belum tersentuh secara menyeluruh.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar Muhaimin, yang akrab disapa Cak Imin, saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa 3 Februari 2026 malam.
Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial dan keterbukaan antarindividu di tengah masyarakat. Cak Imin menilai, setiap orang perlu lebih mudah diakses dan siap dimintai pertolongan, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Cak Imin menambahkan, kasus tersebut menjadi refleksi bersama tentang urgensi memperkuat jejaring sosial dan perhatian terhadap kelompok masyarakat kecil, agar persoalan serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
Dibertiakan sebelumnya, seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada berinisial YBR ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri lantaran kecewa tidak dibelikan buku dan pulpen untuk keperluan sekolahnya.
Tragedi itu terungkap pada Kamis, 29 Januari 2026. YBR ditemukan warga dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkih setinggi sekitar 15 meter di kebun milik neneknya.
Warga tersebut awalnya hendak mengikat ternaknya di kebun. Seusai itu, ia berjalan menuju pondok untuk memberi tahu nenek korban agar memperhatikan ternaknya. Di situlah pemandangan memilukan itu terlihat.
Kesedihan semakin mendalam ketika diketahui YBR sempat meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT (47). Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah setempat.
Berikut isi surat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media