Nasional . 06/02/2026, 19:30 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Khusus EBT, komposisinya terdiri dari:
Surya: 17,1 GW
Air (hidro): 11,7 GW
Angin: 7,2 GW
Panas bumi: 5,2 GW
Bioenergi: 900 MW
Nuklir: 0,5 GW (tahap awal)
Sementara itu, storage energi mencakup:
Baterai: 6 GW
PLTA Pumped Storage: 4,3 GW
Adapun pembangkit fosil meliputi:
Gas: 10,3 GW
Batu bara: 6,3 GW
Masuknya nuklir dalam bauran energi menandakan keseriusan Indonesia mengejar target net zero emission sekaligus menjaga ketahanan energi.
PLTN dinilai memiliki sejumlah keunggulan:
Emisi karbon sangat rendah
Produksi listrik stabil (baseload)
Tidak bergantung cuaca seperti surya/angin
Kapasitas besar dalam lahan relatif kecil
Karena itu, meski bukan energi berbasis alam, nuklir tetap dikategorikan sebagai energi hijau netral karbon.
Keputusan memulai proyek nuklir juga membuka peluang investasi baru berskala jumbo.
Kebutuhan pendanaan, teknologi reaktor, sistem keselamatan, hingga pengelolaan limbah nuklir akan melibatkan kolaborasi global.
Selain itu, pembangunan PLTN diproyeksikan mendorong:
Transfer teknologi
Pengembangan SDM nuklir nasional
Industri penunjang berteknologi tinggi
Lapangan kerja baru sektor energi
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan energi dalam RUPTL terbaru dirancang untuk menyeimbangkan tiga aspek utama:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media