Ekonomi . 23/02/2026, 18:08 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Dengan kata lain, tidak semua produk ayam bisa bebas masuk. Ada prosedur teknis dan regulasi yang tetap harus dipenuhi.
Impor MDM 120–150 Ribu Ton per Tahun
Selain live poultry dan bagian ayam, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM). Bahan baku ini banyak digunakan dalam industri pengolahan makanan seperti sosis, nugget, bakso, dan berbagai produk olahan lainnya.
“Indonesia juga melakukan importasi MDM sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120.000–150.000 ton per tahun,” kata Haryo.
Menurut pemerintah, impor MDM dilakukan karena kebutuhan industri pengolahan dalam negeri belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi lokal. Dengan adanya impor ini, diharapkan industri makanan olahan tetap bisa berjalan stabil tanpa mengganggu pasokan ayam segar untuk pasar konsumsi langsung.
Pemerintah Jamin Perlindungan Peternak Lokal
Isu utama yang mencuat dari kebijakan ini adalah kekhawatiran bahwa impor ayam dari AS akan menekan harga ayam lokal dan merugikan peternak kecil.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan impor dilakukan secara terukur dan tidak mengorbankan industri domestik.
“Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik,” tegas Haryo.
Pemerintah menilai, impor GPS justru memperkuat fondasi industri perunggasan nasional karena menyediakan sumber genetik unggul yang dibutuhkan dalam jangka panjang. Sementara impor MDM difokuskan untuk kebutuhan industri pengolahan, bukan untuk pasar ayam segar.
Bagian dari Implementasi ART Indonesia–AS
Kesepakatan impor ayam ini merupakan bagian dari komitmen perdagangan dalam kerangka ART antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Dalam konteks perdagangan internasional, kebijakan ini diposisikan sebagai langkah untuk menyesuaikan kebutuhan industri dalam negeri dengan komitmen bilateral, tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
Pemerintah menegaskan bahwa setiap kebijakan impor akan tetap mempertimbangkan stabilitas harga, keseimbangan pasokan, serta keberlangsungan usaha peternak lokal.
Ke depan, implementasi impor ayam dari AS akan terus diawasi secara ketat agar tidak menimbulkan distorsi pasar. Pemerintah memastikan kebijakan ini bersifat selektif, berbasis kebutuhan, dan tetap menempatkan perlindungan industri perunggasan nasional sebagai prioritas utama. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media