Pendidikan . 25/02/2026, 13:29 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Memasukkan anak ke sekolah sering kali dianggap sebagai langkah alami seiring bertambahnya usia. Namun, di balik keputusan tersebut, ada satu aspek penting yang kerap terlewat, yakni kesiapan anak itu sendiri.
Tanpa kesiapan yang matang, pengalaman sekolah justru bisa menjadi tekanan yang berdampak pada prestasi akademik, emosi, hingga relasi sosial anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hesti Lestari, menegaskan bahwa kesiapan sekolah adalah fondasi utama keberhasilan belajar jangka panjang.
Anak yang belum siap berisiko menghadapi berbagai hambatan sejak hari pertama masuk kelas.
Menurut Hesti, salah satu tanda paling sering muncul ketika anak belum siap sekolah adalah munculnya penolakan. Anak bisa terlihat malas berangkat, sering mengeluh sakit, menangis sebelum ke sekolah, atau kehilangan minat belajar.
Dalam kondisi seperti ini, sekolah tak lagi dipandang sebagai ruang eksplorasi dan bermain, melainkan menjadi beban yang melelahkan secara emosional.
Padahal, masa awal sekolah seharusnya menjadi periode menyenangkan yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Jika sejak awal anak sudah merasa tertekan, pengalaman negatif tersebut dapat terbawa hingga jenjang pendidikan berikutnya.
Anak yang belum siap sekolah juga kerap kesulitan mengikuti pelajaran. Mereka mungkin sulit fokus, tidak memahami instruksi guru, atau kesulitan beradaptasi dengan ritme belajar di kelas.
“Jika anak belum memiliki kemampuan sosial-emosional, fisik-motorik, bahasa dan komunikasi, kognitif, serta cara belajar, anak tidak akan mampu mengikuti kegiatan belajar dengan baik,” ujar Hesti dalam seminar daring, dikutip Rabu, 25 Februari 2026.
Ketertinggalan yang terjadi secara terus-menerus dapat menurunkan rasa percaya diri. Anak mulai merasa tidak mampu, enggan bertanya, dan memilih menarik diri dari lingkungan sosialnya.
Secara emosional, kondisi ini juga bisa berdampak pada perilaku. Beberapa penelitian menunjukkan anak dapat menjadi kurang fokus, hiperaktif, hingga menunjukkan sikap malas sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri.
Penting dipahami, kondisi ini bukan berarti anak kurang cerdas atau tidak memiliki potensi. Sering kali masalahnya terletak pada aspek kesiapan sosial, emosional, bahasa, dan kognitif yang belum berkembang optimal saat ia mulai bersekolah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media