fin.co.id - Ledakan keras dilaporkan mengguncang pusat kota Teheran pada Sabtu 28 Februari 2026. Asap tebal terlihat mengepul dari sejumlah titik, memicu kepanikan warga dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Seorang koresponden Aljazirah yang berada di lapangan melaporkan bahwa suara ledakan terdengar jelas di beberapa wilayah ibu kota Iran.
Kantor berita Fars News Agency menyebutkan bahwa beberapa rudal menghantam Jalan Universitas dan kawasan Jomhouri di Teheran. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Menurut laporan Aljazirah, serangan tersebut diduga dilakukan oleh Israel. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel terkait tudingan tersebut.
Situasi ini semakin memanas karena terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer terhadap Iran, terutama dari Amerika Serikat.
Belum ada konfirmasi apakah serangan ini dilakukan dengan restu Washington. Namun sejumlah analis menilai, aksi tersebut sejalan dengan ancaman yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Trump sebelumnya menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap Iran jika perjanjian nuklir baru tidak tercapai. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa opsi militer tetap berada di atas meja.
Kapal Induk AS Tiba di Israel
Ketegangan makin meningkat setelah kapal induk Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, dilaporkan tiba di Israel pada Jumat (27/2/2026).
Kapal induk tersebut sebelumnya berangkat dari Pulau Kreta, Yunani, setelah mengisi perbekalan di pangkalan angkatan laut AS. Berdasarkan laporan The Times of Israel, kapal itu kemudian bergerak menuju Haifa.
Kehadiran USS Gerald R. Ford dinilai sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Kapal induk ini berfungsi sebagai pangkalan terapung bagi jet-jet tempur AS yang siap menggelar operasi jika diperlukan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah berlangsungnya putaran baru negosiasi antara AS dan Iran yang digelar di Jenewa, Swiss, pada 26 Februari 2026.
Negosiasi Berjalan, Tekanan Militer Meningkat
Meski jalur diplomasi masih dibuka melalui perundingan di Jenewa, tekanan militer terhadap Iran justru terus ditingkatkan. Trump bahkan disebut tidak meminta militernya untuk “berhenti” melakukan manuver di kawasan, meski negosiasi sedang berlangsung.
Sejumlah pihak menilai, pengerahan kapal induk dan meningkatnya aktivitas militer menunjukkan bahwa kemungkinan konflik terbuka bukan lagi sekadar wacana.
Beberapa analis internasional berpendapat bahwa serangan terhadap Iran mungkin hanya tinggal menunggu waktu, terutama jika pembicaraan nuklir menemui jalan buntu.
Dampak Global dan Kekhawatiran Pasar
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu dampak global. Kawasan Timur Tengah merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Setiap eskalasi konflik dapat memengaruhi harga minyak global dan stabilitas pasar keuangan.
Investor dan pelaku pasar kini memantau perkembangan situasi dengan cermat. Ledakan di Teheran dan kehadiran kapal induk AS menjadi sinyal bahwa situasi keamanan di kawasan sedang berada dalam fase sensitif.
Hingga saat ini, otoritas Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah balasan yang akan diambil. Dunia internasional pun menunggu respons diplomatik maupun militer dari Teheran.
Di tengah ketidakpastian ini, satu hal yang jelas: konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan berpotensi memasuki babak baru yang lebih serius. (*)