Nasional . 02/03/2026, 08:03 WIB

Siap-Siap Besok Malam! Fenomena Langka 'Blood Moon' Bakal Hiasi Langit Indonesia

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.co.id – Masyarakat Indonesia bersiaplah menengadah ke langit besok malam, Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena astronomi yang paling dinantikan tahun ini, Gerhana Bulan Total, dipastikan akan menyapa hampir seluruh wilayah tanah air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa momen langka ini akan mengubah wajah rembulan menjadi merah darah yang memukau.

Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada tepat di satu garis lurus. Akibatnya, Bumi menghalangi sinar matahari yang seharusnya mencapai permukaan Bulan. Fenomena yang hanya muncul pada fase purnama ini selalu menjadi magnet bagi pecinta fotografi dan astronomi karena keindahan visualnya yang dramatis.

Jadwal dan Detik-Detik Puncak Gerhana

Agar tidak terlewat, warga perlu mencatat detail waktu yang telah dirinci oleh BMKG. Proses gerhana sebenarnya sudah dimulai sejak sore hari, namun fase yang paling menonjol baru akan terasa saat hari mulai gelap.

Fase awal Gerhana Penumbra akan bermula pada pukul 15.42 WIB, disusul masuknya Bulan ke bayangan sebagian (parcial) pada pukul 16.49 WIB. Bagi masyarakat di wilayah Indonesia Tengah (WITA) dan Timur (WIT), fase awal ini akan terlihat lebih jelas karena posisi Bulan yang sudah cukup tinggi saat matahari terbenam.

Momen paling krusial, yakni fase Gerhana Bulan Total, akan dimulai tepat pukul 18.03 WIB. Namun, puncak keindahan fenomena ini terjadi pada pukul 18.33 WIB. Pada jam tersebut, Bulan akan sepenuhnya masuk ke dalam umbra atau bayangan inti Bumi, sehingga warnanya berubah menjadi kemerahan. Seluruh rangkaian peristiwa langit ini baru akan berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB.

Mengapa Bulan Berubah Menjadi Merah?

Mungkin banyak yang bertanya mengapa Bulan tidak menjadi gelap total, melainkan berwarna merah. Fenomena yang sering disebut sebagai Blood Moon ini terjadi karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya matahari. Sisa-sisa spektrum cahaya merah dari atmosfer tetap diteruskan hingga menyentuh permukaan Bulan, meskipun sang satelit alami tersebut sedang berada di titik tergelap bayangan Bumi.

Tips Menikmati Gerhana

Kabar baiknya, Anda tidak memerlukan alat bantu khusus atau kacamata pelindung untuk menyaksikan Gerhana Bulan Total ini. Fenomena ini sangat aman dilihat dengan mata telanjang. Namun, penggunaan binokular atau teleskop sederhana akan sangat membantu jika Anda ingin melihat detail kawah Bulan yang perlahan meredup dan memerah.

Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki visibilitas yang baik untuk memantau kejadian ini. Selain Indonesia, fenomena ini juga dapat teramati di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, Australia, hingga Asia Timur. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memantau kondisi cuaca lokal, karena kejernihan langit menjadi faktor penentu utama untuk mendapatkan pemandangan terbaik besok malam.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com