Internasional . 03/03/2026, 08:02 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Ketegangan di Timur Tengah tambah membarah setelah Hizbullah bergabung dengan Iran melawan Amerika dan Israel. Kelompok Syiah yang didukung Iran itu mengklaim telah menembak roket dan drone ke wilayah Israel utara.
Namun, serang Hizbullah itu dibalas telak oleh Israel di hari yang sama. Militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan ke sejumlah target milik Hizbullah di Lebanon.
Unit manajemen bencana Lebanon melaporkan, sedikitnya 52 orang tewas akibat serangan Israel pada Senin 2 Maret 2026.
Korban berjatuhan setelah gelombang serangan udara dan laut menghantam sejumlah wilayah, termasuk pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai Dahieh, basis kuat Hizbullah- serta wilayah Lebanon selatan.
Militer Israel menyatakan serangan balasan mereka menargetkan para petinggi Hizbullah, pusat komando, gudang senjata, dan “infrastruktur teroris”. Dalam laporan yang beredar, disebutkan bahwa Hussein Meklad, kepala markas intelijen Hizbullah, termasuk di antara yang tewas.
Sementara itu, tidak ada laporan korban jiwa di pihak Israel akibat serangan roket dan drone Hizbullah. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut satu proyektil yang melintasi perbatasan Lebanon berhasil dicegat, sementara beberapa lainnya jatuh di area terbuka.
“Tidak ada laporan cedera atau kerusakan,” demikian pernyataan militer Israel.
Sekitar pukul 01.00 waktu setempat, sirene peringatan serangan udara berbunyi di sejumlah wilayah Israel utara. Ledakan terdengar tak lama kemudian, memicu kepanikan warga Israel.
Sayap militer Hizbullah kemudian mengumumkan telah meluncurkan “rentetan roket dan sejumlah besar drone” yang diarahkan ke situs pertahanan rudal di selatan Haifa.
Mereka menyebut serangan itu sebagai balasan atas pembunuhan Khamenei serta “agresi Israel yang berulang” sejak gencatan senjata November 2024 yang mengakhiri konflik setahun antara kedua pihak.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bersumpah Hizbullah akan membayar harga yang mahal. Ia mengatakan telah memerintahkan militer untuk bertindak tega” terhadap milisi sekaligus partai politik tersebut.
Bahkan, Katz menyatakan pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, kini menjadi target yang ditandai untuk dieliminasi.
Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengutuk tindakan Hizbullah sebagai “tidak bertanggung jawab”.
Ia menegaskan pemerintahnya segera melarang aktivitas militer kelompok tersebut, sebuah langkah yang dinilai berisiko memperdalam ketegangan politik di dalam negeri Lebanon sendiri.
Konflik ini terjadi di tengah eskalasi yang lebih luas di kawasan. Secara luas diperkirakan Hizbullah, yang memiliki hubungan keuangan dan ideologis erat dengan Iran- akan terseret dalam konflik terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media