Hukum dan Kriminal . 05/03/2026, 13:42 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Dalam berbagai laporan media Eropa Timur, Petrovsky dikaitkan dengan jaringan kejahatan terorganisir lintas negara, termasuk dugaan operasi penipuan call center yang menyasar korban di Rusia dan berbagai negara lain selama lebih dari satu dekade.
“Tidak ada polisi, tidak ada teman mafia yang bisa menyentuhnya,” ujar suara pria dalam video yang beredar luas, memperlihatkan Igor dalam kondisi mengenaskan.
Sebuah video brutal beredar di media sosial Rusia dan Ukraina. Dalam rekaman tersebut, Igor tampak babak belur, jarinya dilaporkan hilang, kakinya hancur, dan penculik mengancam akan memotong lengannya.
Para pelaku meminta uang tebusan sebesar $10 juta dolar atau setara Rp157 miliar. Uang itu disebut sebagai pengembalian dana hasil dugaan penipuan kripto yang melibatkan jaringan keluarganya.
Media Rusia menyebut Igor masih hidup, tetapi dalam kondisi sangat kritis.
Sejumlah laporan mengaitkan kasus ini dengan konflik keuangan di dunia kripto. Ayah Igor diduga terlibat dalam jaringan penipuan aset digital melalui platform abal-abal berskala internasional.
Sementara itu, Igor sendiri dalam profil profesionalnya disebut terlibat dalam proyek kripto legal seperti Tronex dan Stakero.
Namun rumor keterlibatan keluarga dalam skema penipuan global memicu ketegangan antar kelompok kriminal.
Beredar spekulasi bahwa penculikan ini merupakan aksi balas dendam dari kelompok Rusia atau Chechnya yang murka akibat kerugian besar.
Kasus ini mengingatkan publik pada insiden Januari 2025. Saat itu seorang WN Ukraina bernama Igor Iermakov dirampok aset kripto senilai Rp3–3,4 miliar di Ungasan, Bali.
Menurut Kepala Seksi Humas Polres Gianyar, Ipda Gusti Ngurah Suardita, laporan kehilangan diterima pada 21 Februari 2026 malam.
Igor diketahui berada di Bali bersama Yermak Petrovsky dan pacarnya, blogger Ewa Miszałowa. Petrovsky disebut berhasil melarikan diri, sementara Igor ditangkap.
Sehari sebelum penculikan, mereka dilaporkan terlibat cekcok dengan kelompok kriminal lokal karena dianggap terlalu mencolok dan berisik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media